Radio Online


 

OpiniJawa timurTrenggalek

KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK MENCEGAH “NARSISTIK PERSONAL DISORDER” DALAM HUBUNGAN!

×

KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK MENCEGAH “NARSISTIK PERSONAL DISORDER” DALAM HUBUNGAN!

Sebarkan artikel ini

KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK MENCEGAH “NARSISTIK PERSONAL DISORDER” DALAM HUBUNGAN!

Oleh: Evan Kurniawan, pegiat literasi di Quantum Litera Center dan pendiri LBB Yudhistira

Berhubungan dengan orang lain butuh modal, selain material tetapi juga moral dan spiritual. Terutama hubungan yang berbasis pada ikatan seperti pernikahan, atau mungkin juga pacaran yang juga membuat sepasang “kekasih” saling melibatkan perasaan.

Karena perasaan terlihat lebih dalam, dalam pernikahan dan pacaran dibanding hubungan secara umum dan biasa, dibutuhkan pula kecerdasan emosional yang cukup. Tanpa kecerdasan emosional—dan spiritual—sebuah hubungan justru bisa merusak perasaan itu sendiri, mengakibatkan luka dan kadang trauma.

Kecerdasan emosional adalah kemapuan seseorang mengenali, memahami, mengelola, dan menggunakan emosi dengan baik. Salah satu aspek penting dalam kecerdasan emosional adalah pengelolaan emosi. Contohnya saat marah, tidak langsung meledak, saat cemas, tidak langsung panik, saat sedih memberi ruang bukan memendam. Karena dengan hal inilah segala permasalahan yang mencoba “mendistrak” diri kita bisa kita tanggulangi. Karena kita tidak tahu alibi seseorang berkeinginan menjalin hubungan sosial dengan kita.

Ada yang memang tulus untuk berteman, bekerja sama untuk saling menguntungkan, ada yang punya niat untuk melakukan niat buruk dengan berpura-pura baik di awalnya. Siapa yang menyangka bahwa Belanda punya niat untuk menjajah Indonesia, untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Padahal awalnya mereka datang dengan niat baik yaitu melakukan kerja sama. Awalnya datang untuk berdagang, lalu menggunakan kekuatan untuk menguasai dan berubah menjadi penjajahan penuh.

Kita bisa belajar dari kasus “chil grooming” yang dialami oleh Aurelie Moeremans. Hal ini menjadi gambaran bagaimana pelaku “grooming” melakukan aksinya. Ada pola yang sama yang digunakan, yaitu pelaku datang dengan seolah-olah niat baik, lalu mengumpulkan data tentang korban sedetail mungkin, wawasan data tersebut digunakan untuk masuk lebih dalam bertujuan menguasai penuh diri kita. Lalu eksploitasi tersebut baru akan dilakukan. Sementara posisi korban tak berdaya. Pelaku umurnya lebih tua, dan korbannya adalah di usia yang jauh lebih muda. Makanya juga disebut “child grooming”.

Ibarat Belanda yang akhirnya menjajah msayarakat yang belakangan namanya Indonesia karena Negara Eropa itu maju lebih duluan. Dan Indonesia masih janin, belum bernama Indonesia, masih masyarakat yang terbelakang. Akhirnya, ada eksploitasi dan penindasan yang lama rerjadi. Namun, lalu lambat-laun upaya untuk mengusir penjajah itu muncul. Dengan syarat: kesiapan mental kita untuk melawan ketakutan yang dirasakan. Seperti dalam cerita novel “Broken String”, Auriele akhirnya bisa lepas dari korban eksploitasi meskipun menyisakan kenangan yang pahit.

Kecerdasan emosional dalam menjalin hubungan tidak hanya melindungi diri kita dari pelaku ‘grooming’, tapi juga ada masalah-masalah kepribadian lain yang menyebabkan kita menjadi rentan. Salah satunya adalah ketika kita terlanjur menjalin hubungan dengan orang yang punya masalah kepribadian “Narsistik Personal Disorder” (NPD). Masalah kepribadian ini mengganggu ketika ada faktor lain yang membuat kita tidak bisa pergi begitu saja. Misal ada ikatan hubungan persahabatan, percintaan, lingkungan kerja.

Narsisme adalah keinginan manusia yang ingin terlihat menonjol atau ingin dikagumi atau dipuji di hadapan orang lain. Perilaku narsis ini menjadi hal lumrah jika masih bisa menerima proses dialog dengan orang lain. Tapi menjadi tidak lumrah ketika tida bisa menerima pertukaran pesan seperti umumnya manusia bersosial. Itulah mengapa ada kata penjelas di belakangnya yaitu “disorder” yang berarti ada gangguan emosional atau kekacuan psikologis.

Tubuh manusia terhimpun dari jiwa dan raga. Jika gangguan berupa fisik bisa dikatakan penyakit tubuh seperti diabetes, gangguan jantung, penyakit infeksi. Namun jika gangguan berada di mental masalahnya pada pikiran, emosi dan perilaku, yaitu depresi, ‘anxiety disorder’, atau NPD.

Garis tegas yang membedakan orang mengidap emosi normal dan gangguan yang disebut ‘disorder’ adalah jika terjadi secara konsisten, yang dalam jangka panjang mempengaruhi hubungan serta kehidupan sehari-hari. Ciri-cirinya, merasa dirinya penting dan lebih unggul daripada irang lain, butuh pujian terus-menerus, butuh dilayani terus, kurang empati, memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri sendiri, ‘sensitif’ terhadap kritik.

NPD muncul dari kombinasi faktor biologis dan pengalaman hidup. Secara genetik kemungkinan bisa terjadi, secara pola asuh, pengalaman masa kecil dan lingkungan sosial menjadi faktor pembentuk kepribadian seseorang menjadi NPD. Ciri-ciri ini terlihat sejak remaja akhir atau dewasa muda.

Dalam dunia pendidikan sekolah punya kewajiban untuk melakukan pemantauan langsung kepada siswa-siswinya. Dikhawatirkan ada siswa atau siswa yang punya permasalahan ini dan mengganggu proses belajar-mengajar, dalam dunia kerja, kita bisa berbuat apa-apa jika pengidap adalah atasan kita. Jika ada dalam hubungan persahabatan lebih baik dijauhi saja. Jika pengidapnya adalah pasangan kita, tentu juga menjadi masalah tersendiri.

Lalu apa hubungannya dengan kecerdasan emosional? Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Kecerdasan emosinal adalah kemahiran kita mengenali dan memahami kondisi emosi kita. Menjaga kewarasan adalah hal yang sangat penting agar tidak merusak emosional kita. Karena akhir-akhir ini kasus bunuh diri beredar dimana-mana. Hal itu tidak lepas dari kondisi emosional yang tertekan, atau kebodohan untuk mengelola kecerdasan emosi.

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *