SELAMAT BERPERAN IKAPMII TRENGGALEK!
Oleh: Nurani Soyomukti*)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus yang cukup banyak diminati oleh mahasiswa, terutama yang berbasis pada tradisi ke-Islaman ‘ahlussunnah wal jamaah’ (Aswaja). Hampir di bebagai kota yang ada kampusnya, PMII juga eksis sebagai sebuah organisasi yang menjadi wadah kegiatan bagi mahasiswa yang disemangati oleh nilai dasar pergerakan dengan motto ‘Dzikir-Pikir-Amal Soleh”.
Dengan nilai pergerakan tersebut, PMII mengonstruksi metode gerakan kritis-transformatif. Metode ini meniscayakan adanya sikap kritis dalam berpikir dan aktif untuk memainkan peran konkrit menyikapi isu-isu yang berkembang di masyarakat, serta meletakkan pilihan “politis” sebagai agen perubahan. Kritis berarti juga punya analisa yang tajam terhadap realitas sosial dan bersikap terhadap ‘status quo’ serta struktur sosial untuk diarahkan pada perubahan yang berpihak pada masyarakat banyak.
Transformatif artinya mengarahkan daya dan upaya pada perubahan masyarakat dan bukan sekedar wacana saja. Hanya saja wacana kritis juga mengandung arti bahwa gerakan yang dilakukan juga harus dilaksanakan secara hati-hati dan berdasarkan pertimbangan pikiran yang kritis. Di sini, dalam bergerak, tidak mudah diarahkan pada kepentingan-kepentingan pragmatis-oportunis. Juga tidak hanya sekedar semata-mata ada perubahan, tapi perubahan yang lebih baik dan berpihak pada orang banyak. Dalam posisi tertentu, kritis tidak hanya selalu menentang atau memusuhi tanpa pertimbangan yang didasarkan pada analisa terhadap kenyataan.
Dengan proses selama aktif dalam pergerakan inilah, kemudian para alumni PMII mengisi posisi dan peran di masyarakat ketika mereka sudah menjadi alumni mahasiswa. Dan ternyata para alumni ini juga masih membangun ikatan melalui wadah yang kemudian dinamakan Ikatan Alumni PMII yang disingkat IKAPMII.
Pada tanggal 25 April 2026, pengurus baru IKAPMII Trenggalek dilantik dan dikukuhkan dengan nuansa yang agak berbeda. Perbedaannya adalah pada kesemarakan acara, kekompakan alumni PMII yang ditunjukkan dengan tingkat kehadiran yang cukup tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Sambutan dari pihak luar terutama para jejaring dan mitra di berbagai lembaga pemerintahan maupun organisasi kemasyarakatan. Sambutan-sambutan apresiatif juga memacu semangat para alumni, terutama pesan-pesan bagi para alumni dan khususnya pada para pengurus.
Perbedaan lainnya adalah bahwa kali ini kepengurusan IKAPMII bukan hanya pada level cabang atau kabupaten. Kepengurusan pada tingkat kecaatan (anak cabang) juga dibentuk dan juga sekalian dilantik. Pelantikan dihadiri oleh Ketua IKAPMII propinsi, Cak Thorik, alumni PMII yang pernah menjadi Bupati Lumajang. Perwakilan IKAPMII luar Trenggalek juga hadir.
DARI IDEOLOGI KE KIPRAH DAN PERAN
Apalah artinya ada sumber daya manusia, apalah artinya ada orang-orang yang berkumpul dan berjejaring jika tidak menghasilkan peran yang nyata. Besarnya jumlah manusia dalam suatu organisasi tidak akan bermanfaat apa-apa jika mereka yang rata-rata berkiprah di bidang masing-masing ini tidak bergandengan tangan untuk memanfaatkan posisi dan perannya untuk kemanfaatan di masyarakat. Peran dan kontribusi sosial ditagih di sini sesuai dengan kemampuannya masing-masing yang penting ada kemanfaatannya untuk orang banyak—“Khoirunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”).
Konsep “Dzikir, Pikir, dan Amal Soleh” menegaskan bahwa semangat mendekatkan diri dengan Allah merupakan fondasi spiritual yang mendasar, diiringi dengan kemampuan berpikir, kemudian mengamalkan peran untuk kebaikan masyarakat. Tidak dipisahkannya antara iman dan aksi merupakan prinsip dasar dari para alumni PMII yang seharusnya membuat mereka tidak terpisah dari lingkungan sosialnya.
Keberadaan pengurus baru yang diketuai oleh sosok Hadiqun Nuha, diharapkan mampu menjadikan alumni PMII yang ada di Trenggalek lebih mampu mengonsolidasikan kekuatan agar masing-masing alumni lebih meresapi kembali ideologi perjuangan yang ada, yang mungkin pernah menyemangatinya pada saat mereka dulu menjadi mahasiswa. Keberadaan pengurus dengan tindakan mengordinasi informasi dan komunikasi diharapkan salah satunya menjadi ‘corong’ pengingat tentang ideologi pergerakan, bagi para alumni yang secara umur sudah tidak mahasiswa lagi dan punya kencenderungan untuk menjadi bagian dari masyarakat yang punya potensi untuk hidup praktis.
Kehadiran wadah adalah pengingat bahwa kita telah terikat dalam suatu kesatuan ideologis yang kita gunakan untuk menyikapi persoalan-persoalan hidup, Kita pernah di-bai’at untuk mengabdikan diri dan memberikan “ilmu dan bhakti” untuk “satu tanah air” dan suatu “keyakinan”. Viabilitas dari semangat ideologis ini penting agar, meskipun sudah alumni, kita semua tetap masih bisa meresapi idealisme kejuangan sebagai—apa yang diamanatkan Allah untuk menjadi—“khalifah fil’ard” (pemimpin di bumi).
LANGKAH STRATEGIS
Program strategis telah disampaikan oleh Ketua IKAPMII Trenggalek bahwa organisasi alumni pergerakan yang dulu pernah terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa di Trenggalek dan di berbagai kota di Indonesia ini punya tiga agenda strategis yang akan dilakukan: (1) Pemberdayaan, (2) Penguatan Jaringan Organisasi, dan (3) Penguatan Ekonomi.
Pemberdayaan masyarakat merupakan aksi strategis untuk melakukan transformasi sosial dalam merubah masyarakat menjadi lebih maju berbasis pada kemampuannya menangani persoalan-persoalan yang ada, lalu meningkatkan kemampuan sebagai manusia yang awalnya tergantung kemudian menjadi mandiri. Setelah mandiri dan bahkan sudah berada pada situasi memiliki “nilai lebih” atau “surplus values” (ekonomi, tenaga, pikiran, jaringan), bisa membantu yang lainnya menjadi berdaya.
Sebagai manusia yang sudah digembleng selama berorganisasi di pergerakan, para alumni rata-rata sudah memiliki kemandirian dan keberdayaan, bahkan punya posisi dan peran yang bisa dimanfaatkan untuk mengajak orang lain berdaya. Maka kapasitas ini benar-benar harus disadari untuk dimanfaatkan. Di sini, kegiatan-kegiatan penguatan kapasitas adalah salah satu konsep kunci yang harus diwujudkan dalam aksi. Penguatan kapasitas berupa pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat khususnya jejaring yang ada bisa lewat berbagai bidang, ekonomi, sosial, politik, pengembangan kepribadian (‘self-empowerment’). Para alumni yang berada di berbagai bidang tidak boleh diam, harus mendayagunakan sumber dayanya untuk membantu terlaksananya pemberdayaan lewat penguatan kapasitas ini, baik lewat program jangka pendek maupun jangka panjang.
Di sinilah pentingnya penguatan jaringan organisasi sebagai langkah strategis yang kedua. Para alumni di berbagai posisi dan bidang masing-masing harus dimanfaatkan. Pembangunan jejaring ini tentunya dimulai dengan pendataan para alumni PMII yang ada di berbagai tempat, berbagai bidang, berbagai level, dengan profesi atau keberadaan masing-masing, yang semuanya bisa dimanfaatkan ketika sudah merasa sebagai bagian dari manusia yang merasa memili semangat untuk menjadi bagian dari kaum pergerakan—meskipun sudah alumni. Karena gerakan itu pada dasarnya akan terus berlanjut—“A luta continua!” Pergerakan dan perubahan adalah abadi—itu adalah ‘sunatullah’!
Di sinilah pengurus baru harus rajin-rajin bersilaturahmi. Program silaturahmi tanpa henti adalah aksi strategis. Dari sini nanti juga akan bisa menghasilkan pengetahuan tentang adanya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat—dan mungkin juga “pendapatan—yang terjadi di kalangan alumni kadang juga menjadi faktor penghambat bagi konsolidasi kekuatan. Pengurus harus bisa menjadi penghubungan dan “pencair suasana”. Tapi mudah-mudahan tidak ada hambatan seperti itu.
Yang ketiga, penguatan ekonomi. Ini adalah hal yang memang seharusnya ada dan dilakukan oleh siapapun, apalagi untuk mereka yang telah ditempa dengan idealisme pergerakan. Dengan penguatan ekonomi, proses-proses pemberdayaan akan lebih membumi. Ekonomi adalah basis material bagi keberdayaan mental dan spiritual. Logika tanpa logistik seringkali hanya tinggal ide kosong. Kebersamaan, jejaring, semangat pemberdayaan harus juga diarahkan pada penguatan ekonomi. Jangan sampai ada orang yang terlalu miskin tak berdaya, karena menurut sebuah hadis: “Kemiskinan dekat dengan kekufuran!”
Progran pelatihan usaha misalnya, menjadi kegiatan penting untuk masyarakat Trenggalek yang dari sisi perkembangan ekonomi masih tertinggal jauh dibanding kabupaten/kota lainnya. Penguatan ekonomi adalah kontribusi paling nyata sebagai sebuah peran untuk memajukan masyarakat.
KEPEMIMPINAN
Ketua IKAPMII terpilih tampaknya memiliki sumber daya dan energi yang lebih besar dibanding yang sebelumnya—termasuk dalam hal kekuasan jaringannya dan semangat gergerak mengingat usianya masih muda. Pun juga para pengurusnya, semangatnya kali ini tampaknya menyala-nyala.
Hadiqun Nuha, Ketua IKAPMII Trenggalek periode 2025-2030, adalah pemuda kelahiran Kampak Trenggalek punya pengalaman hidup yang membuatnya punya jaringan informasi dan mitra strategis baik di lokal maupun nasional. Pemuda ini pernah mondok semasa sekolahnya, yang membuat nuansa Islam kulruralnya bisa terjaga. Lalu ia kuliah di Malang (UIN Maliki Malang) dan kuliah lagi di Universitas Paramadina Jakarta—yang sering dikenal sebagai tempat kuliahnya kaum elit meskipun pada kenyataannya kampus ini adalah tempat belajar yang punya iklim intelektual yang baik—di mana banyak cendekiawan/intelektual muslim tumbuh dari sini.
Tentunya Hadiq sendiri lebih banyak aktif di pergerakan daripada menjadi kaum elit karena basis sosialnya adalah pemuda desa dengan tradisi nahdliyin yang kuat. Lau pemuda ini aktif di politik Jakarta, yang meskipun demikian ia selalu mengamati dan peduli terhadap Trenggalek. Belakangan ia punya alasan yang kuat untuk lebih sering berada di Trenggalek karena kecintaannya pada kampung halamannya—termasuk pada orangtuanya yang tinggal di sebuah desa di Kampak.
Melihat bagaimana semangat para alumni untuk mulai aktif berkomunikasi karena Ketua IKAPMII Trenggalek memang sangat komunikatif dan rajin “silaturahmi”—termasuk “lobi dan negosiasi”, bisa jadi akan banyak keuntungan organisasional maupun “politis” yang akan didapat oleh IKAPMII Trenggalek dalam upayanya untuk memerankan diri di masyarakat.
Terbangunnya para pengurus di tiap-tiap kecamatan, dengan dibarengi kepemimpinan yang mampu melakukan konsolidasi dan memperluas jejaring, bisa jadi IKAPMII Trenggalek akan jadi kekuatan kritis-transformatif yang jauh lebih kuat. Peran kritis-transformatif ini harus dijaga, salah satunya dengan meresapi kembali kembali nilai perjuangan, prinsip gerakan, agar kekuatan yang besar bisa mencegah tendensi-tendensi kepentingan sempit.
Sepanjang komunikasi dibangun, silaturahmi sering dilakukan, pertukaran dan keterbukaan informasi terbuka bagi para alumni, yang mungkin terjadi adalah justru control nilai pergerakan itulah yang mengendalikan arah sebuah jejaring. Efek penguatan ekonomi dan pemberdayaan akan mengikuti dengan sendirinya. Sebab spirit dan nilai pergerakan adalah kuncinya!***
*) NURANI SOYOMUKTI, anggota Dewan Pakar IKAPMII Trenggalek 2025-2030














