Trenggalek, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin) bersama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya resmi memulai program konversi lahan bekas tambak udang menjadi Tambak Mangrove di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Inisiatif ini disambut positif masyarakat, termasuk enam pemilik tambak yang secara sukarela menjadi pionir dengan total lahan awal sekitar 6.000 m².
Program ini digagas sebagai upaya menambah luasan sabuk hijau pesisir, mengurangi ancaman abrasi, serta meningkatkan perlindungan kawasan pesisir dari potensi bencana termasuk fenomena Mega Thrust. Menurut Mas Ipin, bekas tambak udang kerap menghasilkan limbah yang berdampak buruk bagi ekosistem dan keselamatan warga. Konversi menjadi tambak mangrove dinilai lebih aman dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa menanam mangrove di area delta sungai lebih efektif daripada di tepi sungai langsung, karena arus pasang berpotensi menghanyutkan bibit yang belum berakar kuat.
“Tambak mangrove jauh lebih ramah lingkungan dan tetap memberikan manfaat ekonomi. Ekosistem mangrove dapat menjadi habitat alami udang, ikan, hingga kepiting,” ujar Mas Ipin saat penanaman perdana, Selasa (11/11).
Bibit mangrove yang digunakan merupakan kombinasi dari Surabaya dan varietas lokal Bogem yang dikenal adaptif. Mas Ipin menargetkan program ini dapat diperluas sepanjang pesisir Panggul yang sebelumnya didominasi tambak berisiko tinggi terhadap lingkungan.
Konversi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pengelolaan mangrove dinilai lebih murah dibanding tambak udang konvensional yang membutuhkan listrik, aerator, dan pakan intensif. Selain potensi panen hasil ekosistem mangrove, kawasan ini diproyeksikan berkembang menjadi destinasi ekowisata berbasis alam dan delta sungai.
Ketua Prodi Ilmu Kelautan UINSA, Andik Dwi Muttaqin, menyebut program ini merupakan hasil diskusi panjang dengan Pemkab Trenggalek, termasuk keberhasilan uji coba penanaman 500 bibit tahun lalu. “Ini bentuk pemberdayaan masyarakat, sekaligus langkah menuju visi Mas Bupati terkait Net Zero Carbon,” ujarnya.
Ketua KTH Sido Rukun, Mohammad Yasin, mengapresiasi langkah ini. Menurutnya, keberadaan hutan mangrove akan meningkatkan kelestarian pesisir dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat. “Kami sangat mendukung program ini dan siap berkolaborasi,” tegasnya.















