Banyuwangi|Kegiatan istigosah dan doa bersama menjadi bagian utama dalam rangkaian Bersih Desa Sumbermulyo tahun 2026. Acara ini melibatkan seluruh umat beragama sebagai bentuk kebersamaan dan harapan untuk kemajuan desa.
Kegiatan Bersih Desa diisi dengan istigosah, doa lintas agama, serta rangkaian acara budaya dan tasyakuran sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat. Istigosah dipimpin oleh Kyai Sarban (Dewan Pengasuh PP Miftahul Hidayah, Tembakur), sementara mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH Ahmad Syakur (Pengasuh PP Riyadius Salam, Bangorejo).
Seluruh warga Desa Sumbermulyo dari berbagai agama turut berpartisipasi. Kepala Desa Sumbermulyo, Suhardi, serta Sekretaris Desa Aput Andayani, S.Si, juga aktif dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di pendopo Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi termasuk di lapangan desa dan area petilasan Mbah Sanggar.
Rangkaian acara berlangsung selama beberapa hari: Selasa, 28 April 2026: doa bersama umat Hindu dan Buddha, Rabu, 29 April 2026 doa bersama umat Islam dan Kristen, Kamis, 30 April 2026 resepsi dan kirab hasil bumi, Puncak peringatan Hari Jadi ke-29 Desa Sumbermulyo jatuh pada 1 Mei 2026.
Menurut Kepala Desa Suhardi, kegiatan ini bertujuan untuk memanjatkan doa agar Desa Sumbermulyo diberikan keselamatan (slamet) dan kelancaran ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi simbol kekompakan warga yang secara swadaya mendukung pelaksanaannya.
Sekdes Aput Andayani menambahkan bahwa bersih desa tidak hanya bermakna secara fisik, tetapi juga spiritual melalui doa lintas agama. Harapannya, setelah “dibersihkan”, desa dapat diisi dengan hal-hal positif demi kemajuan bersama.
Rangkaian acara meliputi: Istigosah dan doa lintas agama, Kirab hasil bumi berupa tumpeng progo dan gunungan hasil bumi, Arak-arakan dari petilasan Mbah Sanggar mengelilingi lapangan desa, Makan bersama (tumpeng dengan ingkung), Resepsi dan hiburan musik etnis karawitan oleh kelompok anak-anak Blok 5.
Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini tidak digelar wayang kulit, melainkan hiburan yang lebih sederhana namun tetap meriah.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu menggerakkan UMKM lokal agar ikut berkembang. Suhardi berharap Desa Sumbermulyo dapat menjadi contoh daerah lain dalam menjaga kerukunan dan kebersamaan, meski dengan keterbatasan anggaran.
“Walaupun pendapatan desa kecil, kita tetap bisa merayakan hari jadi dengan guyub rukun,” ujarnya.
Dengan semangat kebersamaan lintas agama dan budaya, Bersih Desa Sumbermulyo tahun ini menjadi simbol kuat persatuan masyarakat dalam membangun desa yang lebih baik.














