BUDAYA “MACAK-MACAKAN” DAN PERAYAAN YANG KEHILANGAN MAKNA!
Oleh: Salma Ayyu Halimah Arrodiyyah, anggota grup Komunitas Quantum Litera Center, asal Munjungan Trenggalek
Selama hidup saya, saya selalu ikut serta dalam perayaan Hari Kartini. Tetapi saya sering merasa tidak puas dengan perayaan ini. Bukan karena jelek, tetapi cara perayaannya selalu itu-itu saja. Tahun demi tahun berganti, isinya malah tidak berganti.
Ada satu hal yang perlu dipertanyakan, perayaan yang diadakan pasti tidak jauh dari konsep “macak” dan “masak”. Padahal ini adalah stereotip perempuan di masa lalu. Lalu apakah kita benar-benar paham dengan arti perayaan Hari Kartini? Atau hanya peringatan yang formalitas dan ritualitas saja?
Sebetulnya tidak ada salahnya membuat perlombaan seperti make-up, fashion show, bazar, ataupun lomba memasak. Ini juga termasuk dalam kebebasan memilih dan berekspresi yang sejalan dengan konsep feminisme. Akan tetapi, jika setiap tahun hanya ini yang dijadikan konsep perayaan. Bukankah kita hanya mengulang konsep lama, di mana perempuan hanya dinilai dari penampilan dan kemampuan domestiknya?
Kartini yang dipahlawankan karena tulisannya, sikap dan aksinya untuk mempertanyakan tradisi, kemudian menjadi Kartini yang seakan hanyalah seorang perempuan yang melayani laki-laki, menyajikan masakan, memprcantik diri agar disayang suami, lalu kasih sayang ini akan ditukar dengan nafkah. Semacam pertukaran sosial secara fisik dan materi yang hendak dibangun dalam rumahtangga, atau semacam memelihata kepatuhan—yang satu harus dihormati karena posisinya lebih tinggi, sementara satunya harus patuh karena posisinya subordinat (di bawah).
Pada hal dalam hubungan rumahtanga sendiri yang seharusnya dibangun adalah penghormatan bersama (saling menghormati). Harus ada kesetaraan yang meniscayakan kedua belah pihak bisa saling bicara sebagai manusia yang sama-sama harus didengar suaranya. Jika suaranya baik maka bisa diikuti, jika suaranya tidak baik apalagi menyimpang dari nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan bisa dihindari.
Raden Ajeng Kartini dalam perjuangannya juga menekankan pentingnya pendidikan, pemikiran kritis, dan kesetaraan peran di lingkungan publik. Lalu mengapa kita tidak mengadakan sesuatu yang baru? Seharusnya di era modern, kita mulai mengubah cara pandang generasi kita dalam memahami konteks perayaan Hari Kartini.
Kegiatan lomba “macak-macak” dan “masak-masak” memelihara dan meningkatkan cara pandang domestifikasi perempuan. Nilai perempuan dianggap hanya sebagai “penyenang hati” laki-laki. Kalau ia cantik, laki-lakinya akan tabah senang. Kalau ia bisa memasakkan suaminya yang enak, maka suami juga suka. Pada hal, dalam konsepsi modern, laki-laki juga boleh memasak, termasuk memasakkan istrinya. Laki-laki boleh bersih-bersih rumah serta peran domestic lainnya.
Masalahnya, jika hal ini terus diulang, maka akan berpengaruh terhadap cara pandang generasi kita ke depan. Mereka bisa saja tetap melihat perempuan dari sudut yang sama, yaitu penampilan dan peran domestik saja. Hal ini akan memengaruhi cara perempuan dipandang, baik di lingkungan kerja maupun sosial, sehingga mereka lebih sering dinilai dari penampilan dibandingkan kemampuan.
Kini sudah saatnya Hari Kartini bertransformasi, lomba-lomba yang mengasah pemikiran kritis seperti debat, karya ilmiah, ataupun pengadaan acara seperti talkshow, bisa menjadi alternatif yang sesuai dalam merepresentasikan perjuangan R.A Kartini. Di mana perempuan bukan hanya dihargai oleh kecantikan dan kelemah-lembutannya, tetapi juga dari logika, ide, dan keberanian dalam bersuara.
Oleh karena itu, peringatan ini bukan sekadar simbolis, tetapi menjadi sebuah ruang yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas, sehingga dapat berdiri dan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Menempatkan perempuan dalam posisi yang setara dengan laki-laki bukan berarti merusak tatanan yang ada. Tatanan lama sendiri memang sudah tak sesuai dengan perkembangan masyarakat modern dan pola pikir yang lebih rasional.
Di era sekarang, perempuan sudah boleh keluar rumah untuk aktivitas ekonomi, sosial, dan politik. Hal itu karena pada kenyataannya pandangan lama bahwa perempuan itu lemah sudah tidak lagi dipercaya. Dulu perempuan lemah, karena divonis lemah, lalu tidak diberi peran untuk mengembangkan dirinya di luar rumah. Perempuan tidak kuat secara fisik karena divonis lemah fisiknya dan tidak boleh mengerjakan kegiatan-kegiatan fisik. Perempuan divonis emosinya lalu dibiarkan tinggal di dalam rumah saja, bagaimana mereka tidak tertekan dan emosinya kurang berkembang.
Bayangkan, seandainya di jika jaman sekarang masih ada yang bilang pada perempuan: “Kamu adalah makhluk yang lemah, gampang emosi. Kamu itu urusan surga saja tergantung pada laki-laki, swarga nunut neraka kathut. Kamu itu adalah calon penghuni neraka terbanyak. Kamu tidak usah sekolah tinggi-tinggi karena kewajiban perempuan adalah mengabdi pada suami, jadi percuma sekolah tinggi dan bekerja karena endingnya tempatmu adalah dalam rumah dan hidupmu dicukupi suaimu, tapi kamu harus patuh padanya.”
Tentu bagi orang yang berakal sehat, pandangan seperti itu tidak masuk akal. Meski demikian, dalam masyarakat Indonesia yang literasinya rendah dengan IQ juga cukup rendah dibawah banyak Negara, maka cara berpikir irasional juga masih banyak mencengkram tubuh-tubuh di mana otak yang seharusnya berkembang justru mandeg dalam paham lama.
Belajar dan mencari ilmu pengetahuan tampaknya tak lagi menarik. Para remaja dan pelajar banyak yang suka bawa HP dan alat “macak” (lisptik, skincare, dll) di dalam tasnya daripada bawa buku terbaru yang akan dibacanya setelah buku sebelumnya sudah dibaca hingga tamat.
Budaya “macak-macakan” tampaknya lebih mendominasi daripada budaya belajar dan budaya berliterasi. Pada hal Ibu Kartini adalah sosok pahlawan yang mencita-citakan pendidikan bagi kaum perempuan agar mereka berkembang menjadi manusia yang berpikir dan punya mental spiritual yang memungkinkannya menghadapi kehidupan tanpa harus tergantung pada laki-laki, bahkan kalau perlu menjadi manusia berdaya yang bisa membantu sesama manusia. Kata Kartini: “Mendidik perempuan adalah mendidik sebuah bangsa!”***














