Jatim|Suasana hangat penuh kebersamaan dan semangat gotong royong terasa kental dalam perayaan Bersih Desa sekaligus Hari Jadi ke-29 Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Kamis (30/4/2026). Mengusung tema “Bersama Kita Lestarikan Tradisi, Pererat Persaudaraan, Majukan Desa Sumbermulyo”, rangkaian acara berlangsung khidmat sekaligus meriah.
Perayaan diawali dengan doa bersama di Petilasan Mbah Pesanggrahan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kirab Tumpeng Rogoh dan Gunungan Hasil Bumi yang menjadi puncak sekaligus daya tarik utama bagi masyarakat.
Kirab dimulai dari Pesarehan Mbah Pesanggaran tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal desa menuju lapangan Desa Sumbermulyo. Meski sempat diguyur gerimis, antusiasme warga tak surut. Iring-iringan yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat tetap berjalan semarak.
Gunungan hasil bumi yang diarak menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki. Setibanya di lokasi, warga langsung larut dalam suasana akrab dengan menikmati hidangan bersama. Tumpeng berisi ingkung yang disajikan melambangkan persatuan dan kebersamaan. Momen rebutan hasil bumi pun berlangsung meriah, penuh tawa dan suka cita.
Acara ini turut dihadiri berbagai unsur, mulai dari Kapolsek Pesanggaran, Danramil 0835/11 Pesanggaran, Danpos AU dan AL Pesanggaran, hingga tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda. Hadir pula para kepala desa se-Kecamatan Pesanggaran serta mantan Kepala Desa Sumbermulyo, T. Adi Waluyo dan Subali, S.H.
Memasuki malam hari, resepsi peringatan diawali dengan santunan anak yatim. Suasana semakin semarak dengan penampilan seni tari dari Sanggar Tari Candraningtyas Desa Sumbermulyo serta penyerahan hadiah lomba kirab.
Kepala Desa Sumbermulyo, Suhardi, menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan buah dari kekompakan warga. Menurutnya, seluruh rangkaian acara terselenggara melalui swadaya masyarakat lintas agama.
“Semua agama berfokus mendoakan Desa Sumbermulyo agar ekonomi masyarakat berjalan lancar dan desa tetap dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tradisi kirab gunungan dan tumpeng merupakan wujud nyata rasa syukur masyarakat. “Gunungan ini simbol berkah. Setelah diarak, masyarakat makan bersama, dan di dalam tumpeng ada ingkung sebagai lambang kebersamaan,” jelasnya.
Suhardi berharap, kegiatan ini dapat mendorong pertumbuhan UMKM serta mempererat keguyuban warga. Ia bahkan menargetkan Sumbermulyo menjadi desa percontohan.
“Walaupun dengan anggaran terbatas, kita tetap bisa merayakan hari jadi desa dengan penuh kebersamaan,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Sumbermulyo, Aput Andayani, S.Si, menjelaskan bahwa makna bersih desa kini semakin luas. Selain sebagai tradisi, juga memiliki dimensi spiritual dan sosial.
“Melalui doa lintas agama, kita berharap desa ini bersih lahir dan batin. Ke depan, desa yang sudah ‘bersih’ ini diisi dengan hal-hal yang lebih baik untuk kemajuan bersama,” tuturnya.
Ia menambahkan, istilah bersih desa berakar dari tradisi ruwatan dalam pewayangan yang dahulu identik dengan pertunjukan wayang sebagai simbol pembersihan. Kini, maknanya berkembang hingga mencakup peringatan hari jadi desa.
Perayaan Hari Jadi ke-29 Desa Sumbermulyo sendiri jatuh pada 1 Mei 2026 dan diperingati pada malam harinya. Dengan semangat toleransi dan gotong royong, Sumbermulyo menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun desa yang harmonis dan maju.














