PEMBACAAN PUISI “REVOLUSI GADIS GADIS SANGGUL” KARYA NIMAS REDISTI SEMARAKKAN ‘TGX WOMAN SUMMIT 20026’ DAN PERINGATAN HARI KARTINI TRENGGALEK
Acara peringatan Hari Kartini biasanya didominasi oleh acara parade “cantik-cantikan” sepert lombha fashion dan lain-lain. Tapi kali ini, Trenggalek punya acara yang lebih bernuansa refleksi. Acara peringatan Hari Kartini yang diadakan oleh Pemkab Trenggalek dan Uprintis ini benar-benar bernuansa perenungan dan menghadirkan tema literasi.
Selain ada acara peluncuran buku “Bising dan Hening” yang ditulis oleh lima penulis Trenggalek (Novita Hardini, Maria Terry Ana, Tia Murdianingsih, Agil Gemintang, dan Kiki Khoiriyah) dan dilanjutkan diskusi bertema menguraikan luka perempuan menuju kebangkitan dengan narasumber Ning Uswah Syauqi (Pimpinan PP Al Azhar Mojokerto) dan Syafira Putri Ramadhani (psikolog muda Trenggalek), juga ada pemutaran film dan baca puisi.
Baca puisi yang dipersembahkan oleh Nimas Redisti Pradnya Paramita merupakan salah satu persembahan yang tak kalah reflektif karena membawa ratusan audiens kepada perenungan tentang posisi dan peran perempuan di tengah dinamika jaman yang terus berubah. Inilah puisi yang oleh penulisnya diberi judul “Revolusi Gadis-Gadis Sanggul”:
Ada replika ganjil menatapku
Dibekukan waktu.
Seonggok raga berparas lugu,
Sanggulnya disinggahi kupu,
Bibirnya semburat merah jambu,
Melati di surainya layu.
Bu,
Kami pernah mati suri,
Sekawanan pembelot patriarki
Tungku menelan bara,
Keraton memasung kelana,
Pingit melucuti cita.
Bu,
Kini kami tahu mengeja
Bekas gincu di kotak suara
Tak lagi rambu untuk bisu
Gelombang di sanggulku
Mustahil ramalan kodrat pilu
Bila datang pria-pria mengarak
Mereka bukan membentengi ringkih tubuhku
Bu,
Mimpi tak lagi tabu.
Kawanku nyonya tanah yang baru
Adik menulis buku,
Mbakyu mengayuh perahu.
Dan aku, aku tetap anakmu,
Namun bukan lagi candu yang terpaku.
Meskipun tidak ikut menulis dalam buku “Bising dan Hening” nama Nimas juga tercatat sebagai salah satu penulis perempuan belia di Trenggalek yang cukup produktif.
Sejak kecil, putri dari Budi Santoso ini gemar menulis puisi, baginya sastra adalah seni memahami rasa. Seiring waktu, karyanya bertumbuh bersamanya. Bukan hanya puisi, namun juga cerpen dan naskah, yang terkadang juga ditulis dalam bahasa inggris. Buku antologi puisi tunggal pertamanya adalah “Bianglala Mencium Embun” (Sembilan Mutiara Publishing, 2023) . Ia juga menulis untuk buku antologi puisi bersama, misalnya “Renjana yang Tak Berujung” (Pustaka Elmos, 2025), “Suaraku Bukan untuk Dijual” (Elmos Publishing, 2024). Sedangkan cerpennya juga tergabung dalam antologi bersama, misalnya Kumpulan Cerpen “Bisingnya Jantung Kota” (2025), kumpulan cerpen “Duit Ora Payu” (Pustaka Elmos, 2024).
Gadis yang sekarang duduk di kelas 12 SMAN 1 Trenggalek ini lahir pada tanggal 11 Juli 2008 di Trenggalek. Ia memulai pendidikan dasarnya di SDN 2 SURODAKAN, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 TRENGGALEK. Beberapa lomba bercerita dan baca puisi diikutinya dan sering menjadi juara. Juga lomba menulis, yang memang menjadi hobinya.***














