NASIONALTODAY.COM – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di sejumlah daerah dalam rentang Selasa (1/9) hingga Kamis (3/9). Hampir 2.000 orang, yang sebagian besar merupakan pelajar dan anak-anak, dilaporkan mengalami berbagai gejala setelah menyantap menu MBG.
Kasus tersebut dilaporkan terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatera Barat; Bener Meriah, Aceh; hingga Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Sidoarjo, 730 Orang Terdampak
Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, jumlah korban terdampak mencapai 730 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyampaikan kondisi tersebut pada Kamis (3/9).
Para korban merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Mereka diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9).
Sejumlah sekolah di wilayah tersebut juga melaporkan anak didiknya mengalami gejala serupa.

Rembang, 777 Murid dan Guru Mengalami Gejala
Kasus dengan jumlah korban besar juga terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 777 murid dan guru SMA Negeri 1 Lasem dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan para siswa dan guru mulai mengonsumsi menu MBG pada Rabu (2/9) sekitar pukul 12.00 WIB.
Menu yang disajikan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Soditan. Makanan tersebut terdiri atas nasi, ayam bakar, sambal teri, tempe goreng dan lalapan.
Gejala mulai dirasakan sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. Para korban mengalami mual, muntah, nyeri perut dan diare.
“Kami mulai mendapat laporan ketika Kamis pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Ratusan murid berhamburan dan mengantre di toilet,” kata Juhartutik.
Berdasarkan pendataan sekolah, sebanyak 752 siswa dan 25 guru mengalami diare.
Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas Lasem untuk mendapatkan penanganan medis. Tenaga kesehatan dan ambulans dikerahkan ke sekolah.
Sekolah juga memulangkan 1.174 murid serta 95 guru dan karyawan sekitar pukul 08.30 WIB. Para orang tua diminta memantau kondisi kesehatan anak dan segera membawa mereka ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan.
Kepala Puskesmas Lasem, dr. Joko Paryanto, mengatakan hingga saat itu terdapat 21 siswa yang menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat.
“Dari jumlah tersebut, 17 siswa diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, sementara empat siswa menjalani rawat inap. Semua kondisinya baik dan tertangani dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah, orang tua dan para siswa.
Menurutnya, pihak SPPG bertanggung jawab terhadap penanganan medis para korban dan memastikan biaya pengobatan ditanggung.
“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” kata Achmad.
SPPG Soditan Lasem juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur dan prosedur standar operasional untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Tana Toraja, 152 Orang Dirawat
Di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 152 orang dari dua sekolah menengah pertama negeri dilaporkan mengalami gejala yang diduga akibat keracunan setelah mengonsumsi MBG.
Para korban berasal dari SMP Negeri 1 Makale dan SMP Negeri 2 Makale. Mereka menjalani perawatan di tiga rumah sakit di Kota Makale.
Kepala SMP Negeri 1 Makale, Yohanis Pakiding, mengatakan sejumlah siswa mulai mengalami mual, muntah, sakit perut hingga diare pada Kamis (3/9). Salah seorang guru juga mengalami gejala serupa.
“Karena sudah massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya menghubungi rumah sakit dan puskesmas,” ungkap Yohanis.
Menu MBG tersebut diantar oleh SPPG Batupapan pada Rabu (2/9) sekitar pukul 11.00 Wita. Menu yang diberikan berupa nasi, ayam dimasak air, perkedel dan sayur campuran wortel.
Menurut pihak sekolah, makanan sebelumnya telah diperiksa oleh petugas penanggung jawab di sekolah.
Namun, salah seorang orang tua murid mengaku mendapat cerita dari anaknya bahwa makanan tersebut berlendir. Daging ayam juga disebut masih berwarna merah dan berbau amis.
Sebanyak 152 orang kemudian mendapatkan penanganan medis di tiga rumah sakit di Kota Makale.
Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeq, turun langsung meninjau kondisi korban di RSUD Lakipadada. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja mengerahkan sejumlah puskesmas dan tenaga kesehatan untuk menangani para korban.
“Saya sudah sampaikan kepada semua pimpinan rumah sakit, bahwa ini harus segera ditangani sesegera dan seoptimal mungkin sesuai dengan SOP yang ada di rumah sakit,” kata Zadrak.

Agam dan Bener Meriah
Kasus dugaan keracunan MBG juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebanyak 276 orang yang terdiri atas murid SD, SMP, SMA hingga guru diduga mengalami keracunan.
Pemerintah daerah kemudian menghentikan sementara distribusi makanan dari SPPG Pasia Laweh untuk dilakukan evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sebanyak 16 orang yang terdiri atas 15 siswa sekolah dasar dan seorang kepala sekolah dilarikan ke Puskesmas Lampahan pada Rabu (2/9).
Mereka mengalami sejumlah gejala, di antaranya pusing, mual, gatal hingga sedikit kesulitan bernapas setelah mengonsumsi menu MBG.
BGN: Jika Ada Unsur Pidana, Akan Diproses
Rentetan kasus dugaan keracunan tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama menyangkut keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan bahwa pihak yang terbukti melakukan kelalaian hingga memenuhi unsur pidana harus bertanggung jawab.
“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” kata Sudaryono.
Hingga kini, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam sejumlah kasus tersebut, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.
Rangkaian kejadian ini selanjutnya masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi dari pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti munculnya gejala keracunan, termasuk apakah benar berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi para korban.
Artikel ini dikutip dari BBC News Indonesia.














