SELAMAT DATANG PENULIS PEREMPUAN TRENGGALEK
Oleh: Nurani Soyomukti*)
Ada yang istimewa di peringatan Hari Kartini 2026 di Kabupaten Trenggalek. Ada acara yang bertajuk “RGX Woman Summit”, digelar oleh Uprintis, sebuah lembaga yang didirikan oleh Novita Hardini, istri bupati Trenggalek yang menjadi “wakil rakyat” di DPRRI. Acara ini juga didukung oleh Pemkab Trenggalek, khususnya Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Kenapa acara ini istimewa? Tentu saja karena acaranya diwarnai dengan kegiatan reflektif, bukan sekedar seremonial dan lomba-lomba feminin seperti seputar “macak-macak” dan masak-masak. Kegiatan reflektif ini dibungkus dengan acara diskusi dan sesi ‘hypnoteraphy’ yang dipandu oleh psikolog. Yang paling penting adalah diluncurkannya sebuah buku yang ditulis oleh kaum perempuan, yang dimotori tentu saja oleh Novita Hardini yang belakangan juga mulai mendalami dunia menulis.
Buku yang diluncurkan diberi judul “Bising dan Hening”, berisi kumpulan cerita kaum perempuan yang dianggap penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) serta kisah kebangkitan perempuan menuju pronses pemberdayaan diri. Selain Novita Hardini, buku ini juga ditulis oleh para perempuan penulis dari komunitas literasi yang namanya di dunia sastra Trenggalek sudah tak asing lagi, yaitu Maria TerryAna, Agil Gemintang Senja (Sri Mulyani), Tia Mudianiningsih, dan Kiki Khoiriyah.
Novita Hardini tentu adalah nama yang sudah tidak asing di telinga warga Trenggalek. Ia adalah istri bupati, ketua tim penggerak PKK, dan sosok perempuan cantik ini melenggang ke kancah nasional karena duduk di kursi senayang sebagai anggota DRRI. Dia juga punya lembaga yang didirikannya, Uprintis, yang menjadikannya sebagai organisir bagi kegiatan pemberdayaan perempuan. Nama Novita juga masuk di dunia perfilman dan sosoknya juga nongol di layar lebar. Pemikirannya semakin matang, kemampuan komunikasi publiknya juga mengalami lompatan yang luar biasa. Dengan beberapa jabatan di ranah publik yang ia pegang, tentu perempuan ini bisa menyebarkan pemikirannya di berbagai tempat.
Setelah ia mulai menjadi penulis, akhirnya masyarakat bukan hanya menyerap apa yang ia omongkan. Tapi juga menyerap setiap makna dari huruf-huruf yang ia pahat dalam buku karyanya. Dalam tulisannya di buku “Bising dan Hening” ini, Novita menceritakan bagaimana ia mengalami luka batin masa kecil akibat tindakan perundungan yang dilakukan teman-temannya. Di satu sisi, disuguhkan kisah tentang bagaimana seorang ibu bisa mengajari seorang anak perempuan tentang kemandirian. Ia punya seorang ibu yang mampu menangkap sunyi yang ada di mata anaknya. Ibu menjadi pelabuhan yang aman saat ia butuh bersandar.
Novita kecil diajak berjuang dengan pengalaman nyata. Cerita ini yang paling menarik dalam buku ini, yaitu tentang bagaimana ibunya mengajaknya menggoreng krupuk lalu “memaksa” agar Novita menjual krupuk itu. Maka inilah kalimat paling indah dan filosofis yang saya kutip dalam buku ini: “…kerupuk yang kaku dan bantat, saat bersentuhan dengan panasnya minyak, perlahan menggeliat dan mekar dengan sempurna… Bahwa untuk mekar dan menjadi besar, terkadang kita harus melewati ujian api yang panas. Dan saat waktunya tiba, kau pun akan mekar, seluas dan seindah harapanmu.”
Perjuangan berikutnya adalah menawarkan krupuk ke teman-teman dan guru di sekolah. Novita kecil diminta menetapkan harga sendiri. Ia diajari ibunya kemandirian dalam memutuskan harga. Ia diajari berbisnis. Ia dipaksa untuk bisa berkata dan mempengaruhi orang lain. Proses ini membuatnya tak lagi terlalu harus banyak mimikirkan apa pendapat orang lain tentang dirinya, tapi membuatnya bagaimana orang lain bisa terpengaruh oleh kata-katanya. Tulis Novita tentang apa yang dilakukan ibunya: “Beliau sedang memberiku sebuah posisi tawar. Dengan membiarkanku menentukan harga, Ibu sedang melatihku untuk memiliki kendali—mengajariku bahwa nilaiku tidak ditentukan oleh intimidasi orang lain, melainkan oleh keputusan yang kubuat sendiri.”
Sementara itu, siapakah Terry? Perempuan ini mengenal literasi sejak SMK, saat ia menjadi aktivis jurnalistik pelajar di SMKN Pogalan. Lalu ia bergabung dengan Quantum Litera Center (QLC) dan menjadi ketua, seingat saya tahun 2012. Bersama para perempuan di QLC waktu itu ia mendeklarasikan KIPAS (Komite Independen Perempuan untuk Aksi Sosial). Lalu setelah kuliah dan berpindah-pindah tepat, ia pulang lagi ke Trenggalek dan menyemarakkan kembali kegiatan literasi belakangan ini dengan terobosan kegiatan yang ia sebut “diskusi buku”—dilaksanakan dua mingguan.
Perempuan ini punya keahlian bermain teater. Penampilan bacapuisi dan aksi teatrikalnya tampil berkali-kali di acara Arisan Sastra bulanan dan dua kali seingat saya tampil di Pendopo. Salah satunya yang saya ingat adalah yang ia beri judul “Merdeka Topeng-Topeng” di acara jamuan Peringatan Kemerdekaan di Pendopo Kabupaten Trenggalek. Tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai juga tersebar di beberapa media dan buku antologi bersama.
Terry punya modal yang sangat cukup untuk menulis topik kekerasan dalam hubungan. Ia sering ‘sharing’ pengalamannya berhubungan dengan lelaki yang “patrarkal” saat masih pacaran. Yang mengatur-ngatur menggunakan dalil agama. Bahkan kisah yang ia ceritakan dalam buku “Bising dan Hening” ini membuat kita tahu bagaimana ia juga berhadapan seorang “pacar” yang lebih “toxic” lagi. Cerita yang berjudul “Diari Dariku” tampaknya adalah uraian kisah yang mirip dengan apa yang ia ceritakan pada saya tentang pacarnya di kala itu, suatu masa kelam yang berhasil ia tinggal sebelum akhirnya ia menambatkan hatinya pada seorang lelaki yang menjadi suaminya. Apa yang ia tuliskan tentunya jauh lebih lengkap, dan saya bisa bilang itu adalah hubungan yang konyol ketika ada seorang pria yang seposesif dan se-“NPD” itu.
Terry juga menulis tentang kisah seorang perempuan yang tentu saja mengalami hubungan yang jauh lebih parah. Bagaimana penindasan berupa kekerasan verbal dan non-verbal itu tidak keterlaluan, hingga seorang perempuan dalam rumahtangga harus melaporkan suaminya ke penrgak hukum pidana? Keputusan itu bahkan diambil setelah perempuan minta pendapat anak-anaknya: “Nak, jika Bapak masuk penjara, apakah kamu tidak keberatan?”
“Kami tidak butuh Bapak. Kami hanya ingin kita bertiga bahagia,” ucap kedua anaknya. Perceraian pun terjadi. Perjuangan untuk lepas dari pria ‘toxic’ itu butuh waktu yang amat lama. Dimulai dari adanya penindasan, kesadaran, hingga pilihan yang harus dilalui dengan perjuangan. Cara berjuang yang dilakukan salah satunya adalah melawan diri sendiri, mencari dukungan dan solidaritas.
Kisah-kisah kebangkitan untuk melupakan luka batin akibat perlakuan pasangan memang menjadi lanskap utama tulisan-tulisan dalam buku ini. Kiki Khoiriyah, misalnya, mengisahkan perempuan yang harus berdampingan dengan pria yang pemarah dan pemakai narkoba, yang membuat si istri akhirnya harus nekad bekerja ke manca. Memang kebangkitan perempuan tidak selalu diiringi kesadaran sosial-politik atau moral. Tapi kebangkitan untuk mencari ekonomi secara mandiri adalah pilihan yang harus ditempuh, misal dengan mencari uang yang lebih banyak dengan bekerja jadi pekerja migran. Bagaimana caranya dapat uang, tidak lagi berharap pada lelaki, lalu bisa bikin rumah sendiri dan anak-anak terbiayai hidupnya. Kisah ini banyak kita jumpai di masyarakat kita.
Kiki adalah penulis perempuan yang cukup produktif meskipun ia tak pernah mengenyam dunia perkuliahan. Ia belajar otodidak. Dia bergabung dengan QLC saat komunitas ini pernah pada masanya banyak membuat kegiatan di sana—bahkan mereka bikin QLC cabang Panggul. Sejak awal hingga kini, ia banyak menulis cerita pendek. Selalu tidak absen dalam ‘proyek’ penulisan bersama antologi cerpen. Juga terlibat aktif dalam diskusi-diskusi kepenulisan dan sastra. Dia tinggal di Panggul.
Dua penulis lainnya, Agil dan Tia juga tinggal di Panggul. Inilah menariknya. Saya telah membuat catatan bahwa Panggul adalah gudangnya sastra, sastrawan-sastrawan Trenggalek lahir dan terinspirasi dari kecamatan ini. Nama sastrawan senior seperti Sri Emyani, Sri Purnanto, Eko Swargono pada eranya adalah para penulis produktif sastra koran dan majalah. Ada juga Bonari Nabonenar, meskipun asalnya Dongko, tapi pernah tinggal di Panggul, yang juga merupakan nama sastrawan yang terkenal pada jamannya.
Dua sastrawan bersaudara, Sri Emyani dan Sri Purnanto, adalah guru sastra di sekolah masing-masing (SMP dan SMA). Nama Agil Gemintang Senja dan Tia, dua penulis lain dalam buku ini, tentu tak lepas dari inspirasi para guru itu—baik langsung maupun tidak langsung. Generasi penulis perempuan Panggul lahir. Selain yang tiga perempuan yang bergabung dalam buku “Bising dan Hening”, ada satu nama lagi yang cukup produktif, yaitu Restu Bumi. Mereka lahir dari berkembangnya gairah sastra dan literasi sejak kami mengadakan acara Arisan Sastra bulanan dan kemudian berubah jadi QLC.
Saya harus menceritakan sosok Agil Gemintang Senja dan Tia. Ia adalah magnet pada jamannya, yang membuat QLC berdiri di Panggul. Yang membuat acara Arisan Sastra beberapa kali dilakukan di Panggul, tepatnya yang membuat para pegiat literasi di Trenggalek selalu bersemangat datang ke Panggul. Beberapa kali workshop sastra digelar, pesertanya selalu puluhan. Lalau anak-anak Panggul juga sering datang ke Trenggalek.
Agil waktu itu memang kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia menulis puisi dan cerpen, sangat produktif sekali hingga sekarang. Ia termasuk seorang yang punya pengetahuan luas tentang sastra. Sebagai guru bahasa dan sastra di Indonesia di SMAN Panggul, dia juga banyak menularkan ilmunya ke murid-muridnya. Karyanya sudah tak terhitung jumlahnya, kebanyakan cerpen.
Sementara itu, Tia Murdianingsih juga bisa saya catat sebagai penulis perempuan paling produktif di Trenggalek. Sejak SMA ia adalah aktivis QLC Panggul, terlibat dalam kegiatan sastra dan workshop kepenulisan. Setelah itu ia kuliah di Malang, di sana ia aktif sebagai aktris teater di Teater Dji Ro Lu. Lalu ia pulang ke Panggul dan kini perempuan yang awalnya menggunakan nama pena Tia Ozia ini bekerja sebagai staf di kantor Kecamatan Panggul. Sejak SMA hingga saat ini ia terus menulis, dan bahkan energi menulis yang dimilikinya bukannya berkurang, justru terus bertambah.
Sudah ada delapab buku karya tulis Tia yang telah diterbitkan yaitu ‘Kemarau Merah’ (2018), ‘Remah Gugur di Matamu’ (2019), ‘Di Hatiku Musim Semi Sedang Berlangsung’ (2020), ‘Hujan
Datang Setelah Kepedihan’ (2021), ‘Jarak Jeda’ (2021), ‘Mantra Purnama’ (2024), ‘Sayap Sayup Trenggalek’ (2025), dan ‘Sajak Merah Rembulan Perawan’ (2025). Tia juga berkontribusi dalam buku ‘Untuk Sebuah Nama’ (2020), ‘Duit Ora Payu!’ (2024), ‘Suaraku Bukan Untuk Dibeli!’ (2024), dan ‘Soekarno Aksara dan Api’ (2025). Tulisan Tia lainnya pernah dimuat di Radar Mojokerto, Radar Blitar, Kabar Trenggalek, dan basabasi.co. Di tahun 2025, Tia juga mendapat predikat Finisher dalam gelaran 30DJ Season 8 Amateur Writer Indonesia (AWI) dan Writing From Healing Season 2.
Selain aktif sebagai penulis, Tia aktif sebagai bookstagram dengan akun @kangenaksara telah berpengalaman selama enam tahun dan bekerja sama dengan ratusan penulis dan penerbit se-Indonesia. Aktif sebagai member Komunitas Taksara, temaniPusnas, BBBookClub, dan Kubu (Klub Buku) Setengah Tujuh. Sebagai bookstagram, Tia pernah menjadi reviewer terbaik pada tahun 2022 yang diselenggarakan oleh One Week One Book dan reviewer terbaik pada tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Komunitas Buku Berjalan dan predikat ‘reviewer’ favorit pada tahun 2026.
Sebenarnya banyak para penulis Trenggalek selain mereka. Buku ‘Bising dan Hening’ memang belum mampu menampung tulisan semua penulis perempuan Trenggalek barangkali karena buku ini mengambil tema khusus, yaitu tentang suara perempuan penyintas kekerasan. Keempat penulis diundang oleh Novita Hardini secara khusus untuk menulis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mereka menggali data dan informasi dari penyintas untuk diwawancarai dan digali informasinya tentang pengalaman yang mereka alami. Lalu keempat penulis mengonstruksi cerita lewat tulisannya yang dibukukan bersama tulisan Novita Hardini.
Selamat untuk para penulis perempuan Trenggalek! Salam literasi!***
*) NURANI SOYOMUKTI, pendiri QLC (Quantum Litera Center) dan saat ini sedang “nyantri” di pasca-sarjana Akidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Tulungagung.














