Radio Online


 

BanyuwangiBerita

Desa Kedungrejo Temukan Batu Kuno, Masih Dalam Analisa Dinas kebudayaan dan pariwisata

×

Desa Kedungrejo Temukan Batu Kuno, Masih Dalam Analisa Dinas kebudayaan dan pariwisata

Sebarkan artikel ini

Banyuwangi,|Sebuah penemuan yang patut dijadikan kekayaan akan sebuah sejarah didesa Kedungrejo, di era kepemimpinan Kades A. Zaiho, berhasil mengungkap sebuah peninggalan yang dimilikinya didesa tersebut, karena hal tersebut masih dalam penelitian, karena tempat tersebut mengandung beberapa makna termasuk Batu berbentuk Meja lengkap kursi seakan tempat diskusi namun semua itu masih cerita ke cerita yang belum jelas kebenarannya,

Kades A. Zaiho mengatakan ini kekayaan kita sebagai warga desa Kedungrejo yang patut dilestarikan, karena menyimpan sejuta kisah yang belum disebut nama dan sejarahnya, karena masih dalam analisis (penelitian) pihak Dinas Pariwisata Banyuwangi, namun kita perlu bersyukur melihat adanya hal tersebut yang bisa dijadikan wisata religi dengan menitikkan beratkan menghormati peninggalan tersebut, insyaallah akan dikelola dengan baik dan bekerjasama dengan pihak terkait. Seperti yang sudah ada termasuk Stinggil dan Ompak songo Sragen yang sudah dikenal khalayak ramai.
Rabu (21/01/26)

Salah satu Bpd Setempat Ahmadi mengatakan “memang benar ada batu yang berbentuk seperti yang disampaikan kepala Desa Kedungrejo, ada sebagian yang mengatakan Watu Wayang, namun yang jelas itu Dolmen (mirip batu yang sama menumpuk) karena di kecamatan Muncar ini memang banyak sesuatu seperti itu karena berdekatan dengan Sembulungan, inilah kita harus menghargai leluhur kita akan kekayaan alam itu bisa dimanfaatkan untuk Pendapatan Desa.
Dolmen
sejumlah batu. Batu
-batu penopang itu kemudian
berfungsi sebagai kaki (Prasetyo, 2015:123).
Artefak ini pada masa lalu berfungsi sebagai meja
sesaji, kubur, dan pelindung kubur. Dalam
kebudayaan megalitik, dolmen termasuk dalam
produk budaya megalitik tua yang berkorelasi
dengan aktivitas pemujaan kepada leluhur
(Sugiyanto, 2002:3
-4). Kebudayaan megalitik
lahir dari jalinan antara yang hidup dengan yang
mati. Masyarakat pendukung kebudayaan ini
kemudian menghasilkan benda atau bangunan
dari batu besar maupun kecil (Taniardi, 2021:1

2).
Dilihat dari keletakannya yakni di tengah
-tengah
bukit dan bentuknya yang alami atau tanpa
pengerjaan kemungkinan dolmen Kedungrejo
pada masa lalu digunakan sebagai meja sesaji
ketika upacara pemujaan kepada leluhur sedang
berlangsung. Hipotesis ini didukung oleh temuan
permukaan berupa serpih dari batu obsidian,
fragmen kapak persegi, tulang, dan fragmen
gerabah. Temuan
-temuan itu posisinya ada di
luar dolmen namun masih satu konteks.
Berdasarkan temuan permukaan serpih dari batu
obsidian dan fragmen kapak persegi dari batu
andesit menunjukkan bahwa pada masa lalu
masyarakat pendukung dolmen Kedungrejo
tampaknya sudah mampu membuat alat batu dari
bahan
-bahan yang memiliki tingkat kekerasan
cukup tinggi agar tidak mudah pecah dan
menghasilkan pecahan yang sekaligus dapat
dibuat tajaman. Mereka memilih bahan baku
obsidian karena batu jenis ini memiliki sejumlah
kelebihan, seperti bobotnya ringan, pecahan yang
dihasilkan membentuk tajaman yang sangat baik,
dan mudah dijadikan alat tanpa harus
membutuhkan keahlian khusus dalam
pembuatannya (Ferdianto, 2012:2). Serpih ini
dihasilkan dari batu inti yang sengaja dilepaskan
melalui proses penyerpihan. Bahan jenis ini
memiliki rentang waktu yang cukup panjang,
yaitu mesolitik hingga paleometalik.
Dilihat dari ukurannya tulang yang ditemukan
satu konteks dengan dolmen merupakan tulang
radius yang bagian epifisisnya sudah mengalami
perkembangan. Serpih dari batu obsidian yang ditemukan satu konteks dengan tulang dan
gerabah juga pernah ditemukan di Gua Ketuk,
Pasir Pawon, Jawa Barat (Siregar & Yondri,
2013:101). Masyarakat pendukung dolmen
Kedungrejo mungkin memanfaatkan data-data
arkeologi itu untuk menunjang aktivitas
pemujaan mereka kepada para leluhur pada masa
lalu.
Putri Novita Taniardi mengatakan bahwa budaya
megalitik di Banyuwangi berlangsung dari abad
ke-2 Masehi hingga abad ke-6 Masehi (Taniardi,
2021:228). Hal ini menandakan meskipun
masyarakat Banyuwangi ke

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *