Jika ngobrol tentang minuman kopi di Indonesia sangat beragam. Dari kopi tradisional seperti kopi tubruk, kopi Joss , dan kopi talua sampai kopi modern yang menggunakan biji-bijian kopi asli Indonesia seperti kopi Gayo, kopi Toraja, dan kopi Kintamani, Bali.
Indonesia juga dikenal dengan kopi uniknya. Misalnya, kopi luwak dan berbagai kreasi kopi kekinian lainnya yang menggunakan bahan-bahan seperti susu serta rempah.
Dan kopi – kopi rempah ada banyak dijual di sejumlah tempat semacam home industri di Banyuwangi yang ramai berkembang bak musim jamur di musim penghujan. Tidak hanya di jantung kota Banyuwangi saja, di Banyuwangi selatan bagian barat atau tepatnya di Kecamatan Kalibaru pun banyak bertebaran.
Di kecamatan ujung Barat kota Gandrung itu, ternyata juga ada sebuah home industri bubuk kopi dari berbagai varian rasa dan manfaat.
Home industri itu bernaung di bawah payung ijin dan hukum Usaha Dagang (UD) “Prima Rasa Kopi” yang dikelola oleh sepasang suami istri (pasutri) Suprianto dan Siti Rochimah.
Ketika media online ini berkunjung ke rumah yang sekaligus juga dijadikan sebagai home industri kopi, sepasang suami istri itu amat ramah menerima kedatangan kami.
Dan ketika kami memasuki salah satu ruangan di rumahnya, sudah tampak disediakan buat kami yakni tiga sachet bubuk kopi yang berasa kecut, asem dan pahit.
Dan menurut Siti Rochimah yang kerap disapa Mbak Imah itu mengatakan bahwa, bubuk – bubuk kopi berbagai varian rasa itu sangat kaya manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.
”Kami memproduksinya sejak tahun 90-an, cuma marketnya pada waktu itu masih belum siap. Tahun dua ribu dua belas marketnya belum siap. Tahun dua ribu empat belas masih penataan, kemudian tahun dua ribu enam belas ini ada match dari programnya pemerintah kayaknya mengusung UMKM yang terbaru yaitu yang berkenaan sebagai kopi produk unggulan dari Dinas Pariwisata. Dan karena kita terkendala dengan modal, kita berpikir bagaimana untuk menciptakan produk kopi yang itu bisa dimodifikasi yang artinya tidak standar kalo kita misalnya mesin roasting itu standar. Jadi proses atau hasilnya sudah baku di seluruh dunia itu pasti sama. Yang membedakan itu kan hanya tingkat kematangannya saja,” ujar Mbak Imah, Minggu, (27/10/2025).
Mbak Imah juga menambahkan bahwa, hingga saat ini, ia sangat berterima kasih kepada pemerintah setempat yang telah memberikan fasilitas berupa surat ijin usaha, dan juga memfasilitasi marketing walaupun sebagian disediakan market ke pusat oleh-oleh,
”Yah keinginan kita itu sebetulnya, konsep yang sudah ada ini kalau bisa dikembangkan lagi yang langsung menyentuh ke para konsumen. Dan kemarin, market kita ke konsumen langsung ke konsumen dan kita fokuskan kepada buah tangan berupa oleh-oleh, akhirnya kita fokus dulu ke pusat oleh-oleh terus keinginan yang berikutnya ada harga terendah itu, maunya untuk dijadikan sebagai kebutuhan sehari – hari. Selanjutnya saya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan lagi karena kita mengusungnya kan yang pertama peluang kerja, kedua, edukasi untuk generasi ke depan karena ini juga berkenaan dengan pendidikan, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam,” pungkas ibu dari dua anak ini di kediamannya, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu, tanggal 27 Oktober 2025.














