Banyuwangi|Debu tambang beterbangan, jalan hancur, lingkungan tercabik. Di balik kerusakan yang kian nyata, keberanian penegakan hukum Jawa Timur kini dipertaruhkan.
Ketua Forum Masyarakat Demokrasi Indonesia (FORMASI) Didik Budhiarto angkat suara dengan nada keras: negara tak boleh kalah oleh tambang
“Menurut Ketua Formasi, praktik Galian tambang pasir yang sudah mengantongi ijin di wilayah Dusun Pancoran, Kecamatan Rogojampi Banyuwangi bukan lagi isu publik, melainkan bentuk pembangkangan terang-terangan terhadap hukum.
Ia menilai pembiaran hanya akan mempertebal kesan bahwa ada kekuatan tak tersentuh di balik aktivitas tambang pasir tersebut.
“Proses pemilik Galian C yang telah mengantongi ijin. Periksa titik koordinat izinnya. Kalau tidak sesuai, tutup dan proses hukum. Jangan setengah-setengah!,”ucap ketua formasi (9/4/2026)
Negara, kata dia, wajib hadir melindungi masyarakat, bukan justru membiarkan mereka terseret dalam lumpur ketidakadilan.
Ketua Formasi, bahkan menantang aparat untuk bertindak tanpa kompromi. Ia mendesak Kepolisian Daerah Jawa Timur Polda Jatim memproses pengaduan warga dusun pancoran Rogojampi Banyuwangi
Persoalan ini bukan semata soal galian Pasir. Ini tentang wibawa hukum. Tentang apakah aparat berani berdiri di sisi aturan atau membiarkan hukum terkubur bersama debu tambang.
Kerusakan jalan yang parah dan dugaan operasi di luar koordinat, izin menjadi bukti bahwa pengawasan tak boleh lagi bersifat formalitas. Publik tidak butuh seremoni. Publik butuh tindakan,”cetusnya
Kini sorotan tajam tertuju pada aparat. Apakah hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu? Atau justru kembali tumpul ketika berhadapan dengan kepentingan tertentu?
Warga masyarakat Dusun Pancoran bersama lembaga Formasi sedang menguji nyali penegak hukum. Dan suara Ketua Formasi hari ini adalah alarm keras:
jangan biarkan suara keluhan rakyat menjadi simbol kekalahan negara di hadapan tambang.
Kami lembaga Formasi akan mengadakan aksi blokade akses jalan yang dilintasi truk pengangkut pasir disusun Pancoran Rogojampi Banyuwangi,”tambahnya














