Oleh: Lendra M S.H
(jurnalis, Pemerhati Sosial dan Kebudayaan)
Kabupaten Trenggalek dikenal sebagai daerah dengan kekayaan tradisi yang beragam. Dari seni pertunjukan rakyat, tradisi perkerisan, komunitas adat, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup di desa-desa, semuanya menjadi bukti bahwa Trenggalek bukan daerah yang miskin budaya.
Namun di tengah berbagai kegiatan budaya yang rutin digelar, muncul satu pertanyaan penting: ke mana arah kebudayaan Trenggalek sebenarnya hendak dibawa?
Apakah ia sekadar hidup dalam bentuk festival dan seremoni tahunan? Ataukah sedang disiapkan sebagai fondasi jangka panjang bagi identitas dan pembangunan daerah?
Budaya jangan hanya jadi agenda tahunan. Kita patut mengapresiasi berbagai kegiatan budaya yang terus berlangsung. Pentas seni, kirab pusaka, peringatan hari besar kebudayaan, hingga forum-forum diskusi mulai tumbuh. Ini pertanda bahwa kesadaran kultural masih ada.
Namun jika dicermati lebih dalam, sebagian besar kegiatan itu masih bersifat momentum. Budaya hadir saat ada acara, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kebijakan strategis daerah.
Padahal, jika merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada pelestarian. Ia mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Artinya, budaya harus memiliki arah, perencanaan, dan peta jalan yang jelas.
Pertanyaannya: sudahkah Trenggalek memiliki dokumen atau desain besar kebudayaan daerah yang terintegrasi?
Kita bicara identitas budaya. Apa ciri khas Trenggalek? Banyak daerah di Indonesia memiliki simbol kuat yang langsung dikenali publik: busana adat yang khas, kesenian yang menjadi ikon, atau pusaka budaya yang terdokumentasi jelas secara historis.
Lalu bagaimana dengan Trenggalek?
Apakah kita sudah memiliki rumusan busana adat khas yang benar-benar berbasis sejarah lokal?
Apakah ada periodisasi keris khas Trenggalek yang dikaji secara ilmiah?
Apakah narasi sejarah lokal telah disusun secara sistematis dan menjadi kebanggaan generasi muda?
Ini bukan soal mencari kekurangan. Ini soal keberanian merumuskan jati diri.
Trenggalek tentu memiliki potensi besar. Tradisi perkerisan hidup di kalangan pemerhati pusaka. Seni pertunjukan rakyat tetap bertahan meski di tengah tantangan zaman. Nilai gotong royong dan adat istiadat desa masih kuat. Namun potensi tanpa konsolidasi akan tetap berjalan sendiri-sendiri.
Lalu, pentingnya konsolidasi dan kelembagaan. Kebudayaan tidak boleh hanya bergantung pada figur atau komunitas tertentu. Ketika aktivitas budaya hanya ditopang oleh semangat personal, keberlanjutannya menjadi rentan.
Sudah saatnya seluruh elemen—komunitas seni, tokoh adat, akademisi, media, dan pemerintah daerah—duduk bersama menyusun arah kebudayaan Trenggalek secara jangka panjang.
Bila perlu, forum atau dewan kebudayaan diperkuat bukan sekadar sebagai simbol organisasi, tetapi sebagai ruang berpikir. Ruang untuk merumuskan:
-
Inventarisasi objek budaya Trenggalek
-
Standarisasi simbol budaya berbasis kajian
-
Dokumentasi sejarah lokal
-
Strategi pewarisan budaya kepada generasi muda
Tanpa langkah konkret seperti ini, kebudayaan akan terus berjalan di tempat.
Budaya sebagai martabat dan masa depan. Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah martabat daerah. Ia membentuk rasa percaya diri masyarakat. Daerah yang kuat identitas budayanya biasanya juga kuat solidaritas sosialnya.
Lebih jauh lagi, kebudayaan bisa menjadi kekuatan ekonomi. Pariwisata berbasis budaya, ekonomi kreatif, hingga industri seni dapat berkembang jika memiliki fondasi identitas yang jelas.
Trenggalek memiliki peluang besar untuk itu. Namun peluang itu hanya bisa diwujudkan jika kebudayaan diposisikan sebagai strategi pembangunan, bukan sekadar pelengkap acara.
Mungkin sudah saatnya menetukan arah. Modernisasi tidak bisa ditolak. Digitalisasi tidak bisa dihindari. Generasi muda hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, kebudayaan juga harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Pertanyaan besarnya kini sederhana namun mendasar:
Apakah Trenggalek ingin menjadi daerah yang sekadar mengikuti arus budaya umum Jawa?
Ataukah berani menegaskan identitasnya sendiri berdasarkan sejarah dan kearifan lokalnya?
Identitas tidak akan lahir dengan sendirinya. Ia harus dirumuskan. Ia harus diperjuangkan bersama. Ia harus disepakati secara kolektif.
Jika tidak, kita berisiko kehilangan arah—memiliki banyak kegiatan budaya, tetapi tanpa fondasi yang jelas.
Trenggalek memiliki sejarah. Memiliki tokoh. Memiliki komunitas. Memiliki generasi muda yang potensial. Yang dibutuhkan hari ini adalah keseriusan untuk menyusun agenda besar kebudayaan daerah.
Karena pada akhirnya, kebudayaan bukan sekadar apa yang kita tampilkan di panggung.
Ia adalah siapa kita sebenarnya.
*Karya tulisan ini tidak dibuat oleh AI (Artificial Intelligence)
* Karya tulisan opini ini berdasarkan riset dan pengalaman di lapangan














