Radio Online


 

BanyuwangiBeritaJawa timur

Hadir di Banyuwangi, Wamenkes RI Bawa Program Desa Siaga TB untuk Tekan TBC

×

Hadir di Banyuwangi, Wamenkes RI Bawa Program Desa Siaga TB untuk Tekan TBC

Sebarkan artikel ini

BANYUWANGI, Upaya menekan penyakit menular terus diperkuat. Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, hadir langsung di Banyuwangi untuk mengawal program *Desa Siaga TB*.

Program ini menjadi strategi baru Kemenkes untuk mempercepat penemuan kasus TBC dan memutus rantai penularan hingga ke tingkat desa. Deklarasi program dilakukan oleh Ketua Asosiasi Kepala Desa (Askab) Banyuwangi, Budiharto, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Sabtu (25/10/2026).

Wamenkes Benjamin menjelaskan, Desa Siaga TB merupakan program extraordinary dari Presiden Prabowo untuk percepatan eliminasi TBC. Program ini bertumpu pada empat pilar.

Pertama, *Temukan*. Pemerintah mendorong pelacakan kontak secara aktif melalui skrining massal dan Cek Kesehatan Gratis bagi kontak serumah dan kontak erat pasien.

Kedua, *Cegah*. Kontak erat yang belum sakit diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) agar tidak berkembang menjadi TBC aktif.

Ketiga, *Obati*. Setiap pasien dipastikan mendapat pengobatan hingga tuntas dengan target keberhasilan di atas 90 persen.

Keempat, *Akhiri*. Caranya dengan membentuk Desa Siaga TB. Kepala desa dan kader kesehatan diberdayakan untuk edukasi, skrining rutin, dan pendampingan pasien.

“Ini program luar biasa. Kami lihat langsung pelaksanaannya di RSUD Genteng dan Puskesmas Kabat. Kalau dikawal bersama oleh Bupati, Dinkes, Kades, dan kader, kita optimis kasus TB bisa turun signifikan dalam 2-3 tahun ke depan,” kata Wamenkes Benjamin.

Ia menyebut, Indonesia masih menjadi negara kedua dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Pada 2024, tercatat 1,08 juta kasus dengan 126 ribu kematian. Karena itu, sejak 2025 pemerintah meningkatkan anggaran penanganan TBC hingga 10 kali lipat.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik program tersebut. Menurutnya, Banyuwangi telah melakukan percepatan penanganan TBC secara kolaboratif.

“Penanganan TBC tidak bisa sendiri. Kita libatkan puskesmas, rumah sakit, klinik, camat, kades, kader, hingga perguruan tinggi. Tujuannya agar warga yang terduga segera diperiksa dan berobat tuntas,” ujar Bupati Ipuk.

Data Dinkes Banyuwangi 2026 mencatat, dari target 23.022 terduga TBC, sudah ditemukan 99,57 persen. Dari jumlah itu, 2.534 positif TBC dan 91,6 persennya sudah memulai pengobatan.

Selain fokus TBC, Pemkab Banyuwangi juga terus menjalankan inovasi kesehatan seperti program Rantang Kasih, Gancang Aron, OASIS WANGI, dan I-Care untuk pasien stroke.

Repoter biro banyuwangi
Alvian hidayat

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *