Radio Online


 

BeritaBudayaJawa timurTrenggalek

Dapur Parikesit Pamor Pari Sawuli: Cermin Kebangkitan, Doa, dan Jati Diri Kepemimpinan

×

Dapur Parikesit Pamor Pari Sawuli: Cermin Kebangkitan, Doa, dan Jati Diri Kepemimpinan

Sebarkan artikel ini
Pusaka Keris Parikesit

Penulis : R. Muktiharsaya

Dapur Parikesit, Pamor Pari Sawuli, Tangguh Kamardikan/Gres, di buat pada awal September 2025 sebagai simbol Paguyuban Tosan Aji Parikesit.

Dapur Parikesit dengan Pamor Pari Sawuli merupakan salah satu pusaka yang memiliki kedalaman makna filosofis dan spiritual. Tosan aji ini dibuat pada awal September 2025, dan dihadirkan sebagai simbol Paguyuban Tosan Aji Parikesit, sekaligus pengingat nilai-nilai luhur kepemimpinan Jawa yang berakar pada kebijaksanaan, tanggung jawab moral, dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

Parikesit : Simbol Regenerasi dan Pemulihan

Dalam tradisi pewayangan, Parikesit dikenal sebagai cucu Arjuna, keturunan Pandawa, yang naik takhta di Hastinapura pasca Perang Bharatayudha. Sosok Parikesit melambangkan fase pemulihan dan pembangunan kembali, setelah kehancuran akibat ambisi, amarah, dan keangkuhan manusia.

Sebagai pemimpin, Parikesit menjadi simbol regenerasi kepemimpinan yang damai, berlandaskan tanggung jawab moral serta kebijaksanaan yang diwariskan oleh para Pandawa. Ia bukan sekadar raja penerus, tetapi penata ulang tatanan kehidupan, pengingat bahwa kekuasaan sejati lahir dari kesadaran diri, pengendalian hawa nafsu, dan kepasrahan kepada kehendak Ilahi.

Secara filosofis, dapur Parikesit juga menjadi cermin perjalanan hidup manusia—tentang proses mencari jati diri, menghadapi cobaan, belajar dari kesalahan, dan menata ulang langkah untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Nilai ini sejalan dengan lakon-lakon pewayangan yang sarat tuntunan hidup.

Pamor Pari Sawuli : Doa Kesuburan dan Kemakmuran

Pamor Pari Sawuli dikenal luas sebagai pamor yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan rezeki yang melimpah. Coraknya sering tampil berupa garis-garis halus atau abstrak menyerupai bulir-bulir padi yang tersebar, menghadirkan kesan sederhana namun penuh makna.

Padi, dalam falsafah Jawa, adalah simbol kehidupan—semakin berisi, semakin merunduk. Pamor ini mengajarkan keseimbangan antara keberlimpahan dan kerendahan hati, antara usaha lahiriah dan kesadaran batin. Karena itulah, Pari Sawuli menjadi salah satu pamor favorit, bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi karena makna doa dan pengharapan yang dikandungnya.

Memaknai Pusaka sebagai Sastra Sinandhi

Iki denya kang sastra sinandhi, Yen to siro anggaduh pusaka, Wesi aji sawarnane, dapur kang Mengku tutur, kekarepan sajrone Urip, pamor mungguhe Donga, mring Gusti Kang Linuhung, tuhu kebak ingkang Sasmito, mara Sira ywa Tan kendat Hamarsudi, kongsi dadya pepadang. (Serat Sastra Bajra).

Dalam Serat Sastra Bajra, pusaka dimaknai bukan sekadar benda, melainkan sastra sinandhi—ajaran tersembunyi yang sarat tuntunan hidup. Ketika seseorang dianugerahi kesempatan untuk merawat pusaka, tosan aji, atau benda sejenisnya, ia sejatinya sedang diajak untuk memahami makna dapur dan pamor sebagai simbol nasihat tentang keinginan, nafsu, dan laku hidup sehari-hari.

Pamor dipandang sebagai lambang doa yang tak pernah putus, pengharapan yang senantiasa dipanjatkan kepada Gusti Kang Linuhung. Namun doa tersebut tidak berdiri sendiri. Ia harus diiringi dengan usaha mengolah budi, memperbaiki diri, dan menata perilaku, hingga pada akhirnya manusia mampu menjadi pepadhang, penerang bagi jalan kehidupannya sendiri.

Pada akhirnya, makna pusaka akan selalu kembali kepada pemiliknya—kepada bagaimana ia memaknai, merawat, dan menghidupi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Penutup

Sebagai koleksi Paguyuban Tosan Aji Parikesit, Dapur Parikesit Pamor Pari Sawuli bukan sekadar artefak budaya, melainkan simbol kebangkitan kesadaran, doa yang terpatri dalam besi, serta pengingat akan nilai-nilai luhur kepemimpinan dan kemanusiaan. Ia mengajak setiap insan untuk terus belajar, rendah hati, dan bertanggung jawab dalam menjalani peran hidupnya—dengan bersandar penuh kepada kehendak Sang Pencipta.

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *