Radio Online


 

BeritaJawa timurPemerintahanTrenggalek

Bupati Trenggalek Luncurkan Program “Sangu Sampah” untuk Siswa

×

Bupati Trenggalek Luncurkan Program “Sangu Sampah” untuk Siswa

Sebarkan artikel ini

Trenggalek — Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin meluncurkan program Sangu Sampah dalam kegiatan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Trenggalek Tahun 2025–2029. Program tersebut diperkenalkan di Balai Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Kamis (18/12/2025).

Program Sangu Sampah dirancang untuk mengajak siswa di berbagai jenjang pendidikan mengumpulkan dan memilah sampah bernilai ekonomis. Sampah yang terkumpul selama kurang lebih tiga bulan akan dikonversi menjadi uang saku bagi siswa melalui aplikasi digital.

Bupati menjelaskan, program ini bertujuan mengurangi beban ekonomi orang tua sekaligus menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini. Ia berharap siswa dapat menjadi agen perubahan dengan mengajak keluarga di rumah untuk memilah sampah sebelum dibuang.

“Merombeng atau memilah sampah untuk nilai ekonomis bukan perbuatan hina. Sampah justru menjadi tidak bernilai ketika tidak dipilah,” ujar Mas Ipin di hadapan para siswa.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah memiliki peran strategis dalam upaya mewujudkan target Net Zero Carbon. Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, emisi di Kabupaten Trenggalek berasal dari sektor energi sebesar 42 persen, pertanian 40 persen, sampah 16 persen, serta sisanya dari sektor industri dan lainnya.

“Saat ini Trenggalek masih surplus emisi sekitar 150 ribu ton CO₂ ekuivalen. Itu setara dengan penanaman sekitar 130 hektare mangrove atau mengatasi sekitar 80 persen sampah yang kita hasilkan,” jelasnya.

Menurut Mas Ipin, sektor sampah menjadi pilihan paling realistis untuk dikendalikan karena keterbatasan fiskal dan mahalnya teknologi pengolahan. Oleh karena itu, pendekatan yang dipilih adalah menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi melalui pemilahan dari hulu.

“Saya tidak mungkin menggaji pasukan kebersihan dalam jumlah besar. Maka kami sasar siswa untuk membangun karakter cinta dan peduli lingkungan, sekaligus literasi digital dan inklusi keuangan,” katanya.

Dalam implementasinya, program Sangu Sampah berlaku di semua jenjang pendidikan. Untuk siswa SMA dan perguruan tinggi, satu akun aplikasi terhubung dengan satu rekening pribadi. Sementara bagi siswa SD dan pondok pesantren yang belum menggunakan gawai, akun dapat dikelola oleh guru, wali murid, atau pengurus pondok dengan sistem satu akun per kelas.

Jenis sampah yang diterima meliputi kemasan plastik minuman, plastik sachet, kaca, kain, logam, limbah elektronik, serta minyak jelantah. Sampah yang terkumpul di sekolah akan disalurkan melalui jaringan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), bank sampah, dan mitra pengelola untuk selanjutnya diolah atau didaur ulang.

Mas Ipin menambahkan, apabila program ini berhasil di lingkungan sekolah, pemerintah daerah akan mendorong perluasan ke masyarakat umum, termasuk pengelolaan sampah organik rumah tangga untuk dijadikan pupuk dan media tanam pekarangan.

“Ke depan, sampah bukan lagi masalah, tapi peluang ekonomi yang dimulai dari perubahan perilaku,” pungkasnya.

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *