Trenggalek, Doding Rahmadi menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan konsep pembangunan Kota Atraktif di Kabupaten Trenggalek memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat. Dukungan tersebut mencakup kelompok perempuan, anak, penyandang disabilitas, hingga kelompok rentan lainnya.
Hal itu disampaikan Doding saat menghadiri forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Kelompok Rentan (Musrena Keren) yang menjadi ruang partisipasi kelompok masyarakat dalam perencanaan pembangunan daerah.
Menurutnya, konsep Kota Atraktif tidak sekadar bertujuan mempercantik wajah kota, melainkan menjadi strategi pembangunan kota yang kompetitif, berkelanjutan, serta mampu mendorong kemajuan daerah secara menyeluruh.
“Pembangunan Kota Atraktif di Trenggalek sudah menjadi komitmen bersama antara eksekutif dan legislatif yang tertuang dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJPD dan RPJMD 2027,” ujar Doding.
Politisi senior PDI Perjuangan tersebut menjelaskan bahwa implementasi konsep Kota Atraktif dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang berkualitas, berkelanjutan, ramah lingkungan, serta adaptif terhadap perubahan iklim.
Ia menekankan bahwa membangun daya tarik kota tidak dapat dilakukan secara instan. Prosesnya harus dimulai dari perencanaan yang matang, penataan ruang publik yang nyaman, hingga pengembangan sektor pariwisata yang terarah.
“Pembangunan Kota Atraktif itu harus one for all. Artinya konsep ini harus mampu merangkum seluruh aspirasi masyarakat,” tegasnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, beberapa kawasan akan menjadi prioritas pengembangan. Di antaranya adalah kawasan wisata Goa Lowo, Pantai Simbaronce, pembangunan hutan kota, hingga penataan alun-alun.
Kawasan-kawasan tersebut dirancang menjadi ruang publik yang aman, ramah, dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas.
Menurut Doding, keberhasilan pembangunan kota yang inklusif akan menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap daerahnya sendiri. Dampaknya tidak hanya pada aspek sosial, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kalau masyarakat bangga dengan kotanya, tentu akan berdampak pada perekonomian. Minat berkunjung meningkat dan aktivitas ekonomi ikut bergerak,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan Kota Atraktif tidak boleh didominasi oleh pemerintah semata. Partisipasi masyarakat harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses pembangunan.
“Tujuannya untuk menjaga keseimbangan sekaligus menjadi bukti bahwa pemerintah benar-benar hadir di tengah masyarakat,” pungkasnya.














