Radio Online


 

BeritaHiburanNasional

Membedah Makna “Among” di Atas Tanah Bengkok Temas

×

Membedah Makna “Among” di Atas Tanah Bengkok Temas

Sebarkan artikel ini

Oleh: Akaha Taufan Aminudin

 

NASIONALTODAY.COM|Kota Batu SATUPENA JAWA TIMUR – Pembangunan Pasar Induk di Kota Batu kini telah berdiri megah dengan label Among Tani. Namun, penamaan ini menyisakan sebuah “PR” besar dan diskusi menarik di kalangan masyarakat.

 

Ada dua persoalan mendasar yang muncul: pertama, dualisme nama yang identik dengan Balai Kota Among Tani sehingga memicu kebingungan publik; dan kedua, memudarnya identitas lokal serta sejarah agraria di tempat pasar itu berpijak.

 

Secara historis, lahan yang kini menjadi pasar tersebut adalah tanah bengkok milik desa atau masyarakat Temas. Mengabaikan nama “Temas” dalam label pasar tersebut seolah memutus ikatan emosional antara bangunan fisik dengan sejarah pengorbanan lahan oleh warga setempat.

 

Sebagaimana disarankan oleh Bapak Andrek Prana, nama Pasar Induk Temas mungkin jauh lebih representatif dan menghormati akar sejarahnya.

 

Selain itu Bapak Hariono MC menjelaskan soal identitas geografis, kita perlu membedah istilah “Among” dari kacamata Paramasastra Jawa. Ada perbedaan derajat tanggung jawab yang sangat dalam antara tiga istilah yang sering rancu ini:

 

Momong: Sekadar menemani atau menunggu tanpa beban tanggung jawab yang berat.

 

Ngemong: Mengandung unsur pendampingan aktif dan tanggung jawab penuh; jika yang didampingi salah maka diberi tahu, jika lapar maka “didulang” atau disuapi.

 

Among: Merujuk pada tradisi musyawarah atau rembuk di sawah untuk menentukan pembagian tugas, mulai dari proses Gulut, Nggaru, Matun, hingga ritual Wiwit demi panen yang maksimal.

 

Jika pasar tetap dinamakan Among Tani, maka pemerintah memiliki beban moral untuk benar-benar “Ngemong” para pedagang dan petani, bukan sekadar “Momong” dalam arti menunggu tanpa tindakan nyata.

 

Pasar harus menjadi ruang musyawarah (rembuk) bagi keberlangsungan hajat hidup orang banyak, sebagaimana filosofi Among di tengah sawah.

 

Sudah saatnya kita melihat pembangunan bukan hanya sebagai deretan beton, melainkan sebagai manifestasi dari penghormatan sejarah dan tanggung jawab moral kepada rakyat.

 

 

Selasa Legi 30 Desember 2025

Akaha Taufan Aminudin

Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *