Oleh : Akaha Taufan Aminudin
Monolog Agik Kiswanto dalam Sabda Sastra 2025 mengangkat realita pahit yang dialami Pasar Induk Among Tani sebagai jantung aktivitas ekonomi rakyat Kota Batu.
Di tengah gempuran mall dan minimarket, pasar tradisional semakin terpinggirkan. Artikel ini mengajak kita merenungkan peran penting pasar sebagai ruang hidup masyarakat, sekaligus kritikan pedas terhadap janji-janji politik yang belum terwujud.
Siapkah walikota dan pemerintah menunaikan tugasnya demi mengembalikan martabat pasar sebagai denyut nadi kota?
*Pasar Sebagai Ruang Kehidupan: Antara Kenyataan dan Harapan*
Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli—ia adalah ruang yang menyimpan denyut kehidupan masyarakat. Agik Kiswanto, melalui monolognya di Sabda Sastra 2025, mengungkapkan kegelisahan yang nyata: pasar besar kini sepi, pasar murah yang dijanjikan tidak sesuai harapan.
Kondisi ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal tata kelola dan komitmen pemerintah daerah. Seperti ruang publik yang secara alami berdenyut oleh interaksi sosial, pasar harus kembali menjadi tempat di mana masyarakat bisa merasakan keakraban, tawar menawar, dan kehidupan sehari-hari.
*Janji Kampanye vs Realita Pasar Batu*
Janji politik memang gampang terlontar saat kampanye, namun mengimplementasikannya seringkali menjadi tantangan.
Walikota sebagai pemimpin kini duduk pada kursi yang penuh harapan—harapan warga akan perubahan nyata di pasar, yang selama ini menjadi denyut nadi perekonomian rakyat.
Target wisatawan yang terus naik, mencapai 11,5 juta di 2025, harusnya jadi peluang emas bagi pasar untuk bertransformasi menjadi magnet belanja. Namun kenyataannya, mal-mal besar dan minimarket justru semakin menggerus eksistensi pasar tradisional.
*Romantisme Masa Lalu dan Krisis Pasar Kini*
Monolog Agik juga menyisipkan kisah personal yang menyentuh—kisah jatuh cinta pada masa muda dengan pedagang bunga mawar di pasar, yang malah memilih tukang parkir ketimbang sang pemuda.
Sebuah gambaran sederhana tapi sarat makna tentang dinamika dan realitas sosial di pasar. Hal ini mencerminkan bahwa pasar bukan hanya soal jual beli barang, tapi juga kehidupan manusia yang lengkap dengan suka duka, harapan, dan persaingan.
*Pasar Tiga Lantai vs Mall dan Minimarket*
Kehadiran pasar tiga lantai yang megah sayangnya tidak mampu mengalahkan daya tarik mall dan minimarket yang praktis dan modern. Ini menimbulkan pertanyaan besar: Sejauh mana pasar tradisional bisa beradaptasi tanpa kehilangan jiwa dan karakternya? Bagaimana tata kelola dan inovasi pemerintah serta para pelaku pasar untuk memajukan pasar induk yang sesungguhnya adalah jiwa kota Batu?
*Pesan Kamto: Dari Aktivis ke Pengabdi Pasar*
Dalam monolognya, Kamto nama lengkap Sukamto Abdi Negara—mantan aktivis yang dulu berteriak menurunkan harga—mengajak untuk mengubah paradigma: dari menuntut dan mengeluh, kini saatnya menaikkan martabat pasar. Ia menekankan bahwa walikota adalah putra daerah dan pedagang adalah denyut nadi kota. Sejuta hotel dan pusat belanja modern tidak boleh menghilangkan kehadiran pasar sebagai ruang hidup warga asli.
*Membangkitkan Pasar, Membangun Kota*
Pasar Induk Among Tani bukan sekadar gedung tua yang perlu dipugar, tapi jiwa kota Batu yang harus dihidupkan kembali. Peran walikota dan pemerintah sangat penting, tidak hanya memberikan janji, tapi wujud nyata berupa tata kelola yang baik, dukungan pada pedagang, dan penguatan posisi pasar dalam kehidupan masyarakat. Karena ketika pasar hidup, denyut kehidupan kota pun terasa kuat dan nyata.
Mari jadikan pasar bukan hanya cerita lama di masa muda, tapi kebanggaan masa depan yang menghidupi seluruh lapisan masyarakat Kota Batu.
Bagaimana menurut Anda? Apa langkah konkret yang bisa diambil untuk mengembalikan pasar tradisional sebagai jantung Kota Batu? Bagikan pendapat Anda dan mari bersama bangun diskusi yang menginspirasi!
Ahad Pahing 16 Nopember 2025
Drs. Akaha Taufan Aminudin
*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*














