Radio Online


 

BeritaJawa timurTulungagung

DKPP Tulungagung Optimalkan DBHCHT 2025: Perkuat Kelembagaan Petani dan Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian Tembakau

×

DKPP Tulungagung Optimalkan DBHCHT 2025: Perkuat Kelembagaan Petani dan Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian Tembakau

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Tulungagung memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2025 untuk memperkuat kelembagaan petani tembakau serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian.
Program ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam mendorong pertanian tembakau yang produktif, berkualitas, dan ramah lingkungan.

Sekretaris DKPP Tulungagung, Kemi Durachman, SP, MM, menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan kelembagaan, peningkatan SDM, serta pembinaan perilaku bagi pelaku utama dan pelaku usaha tembakau.

“Kami berharap program ini tidak hanya meningkatkan kualitas produksi tembakau, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani agar lebih mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di pasar,” ujarnya, Senin (3/11/2025).

Kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan

DKPP menyelenggarakan penyuluhan dengan dua pendekatan utama: tatap muka langsung di lapangan dan penyebaran materi melalui media cetak serta publikasi digital.
Fokus kegiatan penyuluhan meliputi:

Peningkatan kapasitas manajerial kelompok tani di 23 desa yang tersebar di lima kecamatan.

Evaluasi kelembagaan kelompok tani berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 18/2018 tentang klasifikasi kelompok tani (pemula, lanjut, madya, utama) menggunakan sistem Panca Kemampuan Kelas Kelompok (PAKEM).

Demonstrasi plot (demplot) budidaya tembakau di empat kecamatan potensial: Sumbergempol (Desa Junjung), Boyolangu, Pakel, dan Campurdarat, masing-masing melibatkan 5–6 kelompok tani.

Sekolah Lapang Pengolah Tanam Terpadu

Selain kegiatan demplot, DKPP juga mengadakan Sekolah Lapang Pengolah Tanam Terpadu selama tiga bulan.
Setiap lokasi diikuti 25 peserta yang dibagi menjadi lima kelompok kecil. Materi yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari penyemaian bibit, pemeliharaan tanaman, panen, hingga pengambilan sampel produksi.

Penyuluh pertanian senior Ahmad Junaidi menjelaskan, sekolah lapang ini menjadi sarana untuk memperkuat kelembagaan petani dan memperluas penerapan teknologi pertanian berkelanjutan.

“Melalui sekolah lapang, kami dorong petani agar lebih terampil, memahami standar mutu, dan mampu menerapkan teknologi tepat guna dalam budidaya tembakau,” jelasnya.

Transparansi dan Dampak Nyata DBHCHT

DKPP menargetkan pemanfaatan DBHCHT dilakukan secara transparan dan akuntabel, sehingga hasilnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, sektor tembakau di Tulungagung diharapkan semakin produktif, berkualitas, dan ramah lingkungan, serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani tembakau lokal.

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *