Oleh Adee Kartika Yulianti
Nama Dwianto Setiawan terasa akrab di benak saya. Bukan karena ternyata beliau adalah Arema asal Batu, itu saya ketahui barusan, melainkan karena nama itu telah hadir mewarnai hari-hari semasa kecil saya.
Maka, ketika Satupena Jawa Timur menggagas sebuah antologi untuk mengenang jasa beliau sebagai penulis cerita anak dan pemerhati sastra anak, saya pun siap mendukung sambil menelusuri kembali memori dari masa kanak-kanak itu.
Cerpen Pak Dwianto Setyawan di Majalah Bobo saya gemari ketika saya masih kecil. Saya pelanggan setia majalah ini sejak edisi nomor 1 Tahun I, tahun 1973, ketika saya berumur 6 tahun.
Saya tumbuh bersama Bobo dan cerpen-cerpen karya Bapak Dwianto Setiawan. Sekalipun saya tidak mengenal beliau secara langsung, saya yakin beliau adalah salah seorang pengarang yang membentuk minat saya pada sastra, dan minat itu mendorong saya untuk menjadi penulis cerita anak pula ketika saya telah mempunyai anak.
Waktu kecil, nama beliau yang tertulis di bawah judul sebuah cerpen akan menyihir saya supaya membaca cerpen itu terlebih dahulu sebelum muatan lainnya. Saya ingat judul “Sekarning” dan “Intan Rasari”. Saya pikir, judul-judul itu mengandung irama bunyi tertentu sehingga bisa sangat lekat dalam ingatan saya dalam kurun waktu tak kurang dari setengah abad.
Memang tidak hanya Bobo yang menemani saya sehari-hari, tetapi juga buku-buku inpres. Karya beliau Intan Rasari (1976) adalah buku paling mengesankan dari tumpukan buku-buku baru setinggi setengah meter di sebelah bantal saya, yang Ibu pinjam dari sekolah tempatnya mengajar, supaya saya “anteng” tidak keluyuran ketika sedang sakit saat berusia 9 tahun. Saya sering sakit, dan karya Bapak Dwianto Setiawan menemani ketika saya harus terkurung sendirian di rumah.
Minat akan sastra yang terus tumbuh itu menyadarkan saya akan kekuatan pikiran manusia. Ketika jasad fisik kita dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, maka sastra menggiring kita memasuki dimensi nonfisik yang tak terbatas.
Boleh jadi seorang pembaca hanya duduk di pojok ruangan yang sempit, tetapi bersama tulisan yang ia baca ia mampu mengembara ke masa ratusan tahun yang lalu atau menjelajah hingga ujung galaksi.
Karya sastra mempunyai kelebihan dibandingkan dengan tulisan nonsastra karena sastra “mengizinkan” diungkapkannya aspek imajinasi manusia yang dengan bebas melompati pagar logika empiris. Dan, imajinasi itu tumbuh subur di benak anak-anak.
Mereka gembira mendapati bunga yang bisa tertawa atau pohon yang berbuah permen. Mereka juga menangis ketika si kelinci kecil bertopi biru ditinggalkan oleh ibu kelinci seolah-olah merekalah anak kelinci itu.
Atas efek emosional dari bacaan sastra, tak berlebihanlah ungkapan bahwa pena bisa lebih tajam daripada pedang. Dalam sejarah, setidaknya ada dua karya yang telah menggerakkan perubahan.
Pertama, karya Harriet Beecher Stowe Uncle Tom’s Cabin (1852) yang telah memicu Perang Utara-Selatan di Amerika hingga menyebabkan terhapusnya perbudakan pada tahun 1865.
Kedua, karya Multatuli Max Havelaar (1860) yang mengakibatkan dilaksanakannya politik etis di Hindia Belanda mulai 1901.
Dari sini, kita mulai paham mengapa R.A. Kartini dihalang-halangi untuk bersekolah ke negeri Belanda, padahal di masa yang sama beberapa putri Mangkunegaran diizinkan: karena Ibu Kartini mempunyai pena yang halus namun sangat tajam mengiris kesadaran.
Ketajaman pena para penulis cerita anak mungkin berbeda dengan ketajaman pena Stowe, Multatuli, atau Ibu Kartini. Pena para penulis cerita anak ibarat pisau ukir yang bergerak dengan perlahan, telaten, tapi pasti. Jejak ukiran itu belum akan tampak pada diri seorang anak dengan segera.
Para penulis cerita anak adalah pengukir batu relief panel demi panel, yang gambaran besarnya baru akan terlihat setelah dua puluh tahun kemudian.
Manusia itu, sebesar apapun perannya, setinggi apapun jabatannya, pada mulanya adalah seorang anak. Anak dengan mentalitas apakah yang yang pada usia dewasanya menjadi panglima yang satu ucapannya mampu menggerakkan ribuan pasukan untuk melakukan pembantaian? Anak dengan tatanilai apakah yang ketika dewasa berhasil menciptakan sistem pembayaran cashless yang membantu rakyat kecil hingga manfaatnya meluas hingga hampir ke seluruh dunia, dan menjadikan dollar amerika kalang kabut? Orang-orang dewasa ini, entah membawa kehancuran atau kemakmuran di bumi, pada mulanya adalah seorang anak.
Maka, anak-anak adalah sasaran yang paling strategis jika kita ingin memperjuangkan terwujudnya dunia yang lebih baik. Perjuangan itu bukan tindakan instan, melainkan melalui proses menanamkan tatanilai pada diri anak-anak. Bukankah menanamkan nilai pada anak adalah mengukir di atas batu, sedangkan menanamkannya pada orang dewasa hanyalah mengukir di atas air.
Adalah para penulis cerita anak yang bertugas menggerakkan penanya untuk menanam tatanilai itu. Karena, merekalah yang mampu menyelami dunia batin dan cara berpikir seorang anak, mengerti tahapan perkembangan bahasa dan psikologis anak-anak, tahu kapan anak menjadi bosan atau tertarik, jitu memilih kata, dan mampu berbicara langsung kepada anak tanpa menggurui.
Kita para penulis sastra anak hendaknya meluruskan niat: menulis demi kemuliaan umat manusia. Anak-anak yang telah terpapar nilai-nilai kebaikan dari karya kita kelak akan mengelola dunia yang mereka warisi dengan cara-cara yang baik, sehingga alam semesta dan umat manusia akan berterima kasih.
Bungkuk, Singosari, Malang, Agustus 2025
Adee Kartika Yulianti
Tulisan ini saya dedikasikan untuk Bapak Dwianto Setiawan (1949 – 2024).
Adee Kartika Yulianti lahir di Malang pada tanggal 14 Juli 1967 dalam keluarga besar yang gemar membaca. Pada usia 6 tahun dia pun memutuskan untuk ikut gemar membaca pula seperti kakek, nenek, dan para sepupunya. Maka, menjelmalah dia menjadi kutu buku.
Dan walhasil, dia pun gemar menulis karena membaca dan menulis itu memang sepaket.
Topik bacaan yang menarik perhatiannya cukup beragam: pendidikan, sejarah, filsafat, linguistik, sastra, etnologi, apa saja asalkan bukan olah raga. Hobby-nya juga banyak. Selain membaca dan menulis, dia suka melukis, menjahit, mencipta benda kerajinan, dan gemar belajar.
Adee Kartika Yulianti lulus dari SD Negeri Abdulrahman Saleh I, Lanud Abdulrahman Saleh, tahun 1980. Dia melanjutkan pendidikan menengah di SMP Negeri 3 Malang (1980-1983) dan SMA Negeri 3 Malang (1983-1986), lalu mengikuti program S1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang (sekarang UM) tahun 1986-1991.
Jika kebanyakan orang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa terindah, maka bagi Adee tidak. Baginya, saat terindah adalah ketika mengikuti kuliah. Dia mendeskripsikan dirinya sebagai seekor ikan yang masuk ke air, di fakultasnya yang kala itu diwarnai pameran lukisan, pementasan teater, diskusi sastra, dan pembacaan puisi. Sungguh bahagia bisa lepas dari tekanan pelajaran matematika dan fisika semasa SMA.
Adee Kartika Yulianti adalah seorang guru yang mengajar di depan kelas sejak 1988. Dia pernah mengajar di berbagai jenjang pendidikan formal, yaitu di SMP PBS Malang (1988-1989), MA dan MTS Berat Kulon Mojokerto (1991-1992), SMK PGRI 4 Malang (1992-1997), asisten dosen di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang (1992-1993).
Selain itu, dia juga menjadi tutor lembaga Bimbingan Belajar Citra Bina Prestasi (1992-1997), tutor BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di Citra Bina Prestasi untuk orang Jerman tahun 1995 dan tutor di ISP STIE Malangkucecwara untuk mahasiswa Jepang dan Amerika tahun 2015.
Pada tahun 1997, setelah memutuskan menikah dengan Ustadz Muzamil, 1959, dia lebih banyak tinggal di rumah mengurus keluarga. Bersinergi dengan suaminya yang sangat supportif, dia bersyukur atas keputusannya itu, karena bisa intens menemani balitanya bermain dan dengan demikian bisa menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang telah dipelajarinya.
Sekarang keempat anaknya telah remaja. Putri sulungnya yang lahir 1999 baru saja lulus S2 Applied Linguistics dari Teachers College, Columbia University New York. Putri keduanya, 2000, juga baru saja lulus S1 dari DKV Universitas Brawijaya. Putrinya yang ketiga, 2005, sedang kuliah Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang selepas mondok di Denanyar Jombang, dan putra bungsunya, 2011, telah masuk Pondok Pesantren PIQ di Singosari. Karena itulah, sekarang dia punya lebih banyak waktu luang untuk dirinya sendiri dan leluasa melakukan hobby-hobby-nya dengan bahagia.
Nah, walaupun sudah melampaui setengah abad usianya, dia masih punya cita-cita, yaitu, karya cerpennya bisa difilmkan, dan, dia ingin sekali menjadi peserta pameran lukisan. Hahaha. Itu berlebihan sih, tapi salah sendiri Satupena yang terlalu lihay dalam menyemangati anggotanya ….














