Radio Online


 

BeritaJawa timurTrenggalek

Rembug Budaya Inisiasi Parikesit, Ikhtiar Mencari Identitas Ageman dan Pusaka Trenggalek

×

Rembug Budaya Inisiasi Parikesit, Ikhtiar Mencari Identitas Ageman dan Pusaka Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Suasana Diskusi budaya bertajuk Rembug Budaya yang berlangsung di rumah dinas DPRD Trenggalek

TRENGGALEK – Diskusi budaya bertajuk Rembug Budaya yang membahas konsep ageman (busana adat) dan pusaka khas Trenggalek digelar Parikesit di Rumah Aspirasi atau rumah dinas Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi. Sabtu malam (7/3/2026).

Tampak berbagai elemen budayawan saat diskusi rembug budaya.

Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemerhati budaya, pegiat adat, serta sejumlah organisasi kebudayaan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya lokal di Kabupaten Trenggalek.

Dalam forum tersebut, para peserta berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai konsep ageman busana adat dan pusaka yang dinilai dapat menjadi identitas budaya khas Trenggalek. Berbagai gagasan disampaikan sebagai upaya merumuskan simbol budaya yang memiliki dasar sejarah, nilai filosofis, serta dapat diterima oleh masyarakat luas.

Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, mengatakan bahwa penentuan identitas budaya tidak dapat diputuskan secara sepihak, melainkan harus melalui proses dialog dan kesepahaman bersama.

“Identitas budaya khususnya di Kabupaten Trenggalek perlu kita musyawarahkan bersama agar bisa diterima oleh semua pihak. Itu tidak mudah dan membutuhkan reset serta pengumpulan data-data nilai sejarah, manuskrip, dan sumber lainnya yang bisa menjadi acuan dalam merumuskan identitas budaya kita,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam pembahasan budaya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

“Jangan sampai budaya kita justru terpecah belah. Negara kita negara demokratis, sehingga perbedaan pandangan harus menjadikan kita satu kesatuan,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Toni, menyampaikan bahwa sinergi berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah berharap keterlibatan organisasi kebudayaan, pelaku budaya, hingga pemerhati budaya dapat melahirkan gagasan yang konstruktif bagi perkembangan kebudayaan di Trenggalek.

“Kami harap dapat memunculkan kesepahaman bersama mengenai konsep ageman dan pusaka khas Trenggalek yang memiliki nilai historis dan filosofis, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat daerah,”pungkasnya.

Respon (2)

  1. Ini momentum yg perlu dimanfaatkan oleh para budayawan semua fihak yg peduli terhadap pemajuan budaya Trenggalek sehingga mempunyai ciri khas dan identitas. Minimal ada 2 kategori busana yaitu busana adat harian dan busana adat kebesaran. Busana adat harian digunakan oleh anak² sekolah, ASN dan pelaku budaya pada hari kerja tertentu dan busana adat kebesaran yg dilengkapi dengan pusaka khas digunakan pada hari upacara adat ataupun pernikahan. Jika nanti sudah disepakati, kita harapkan bisa ditetapkan dengan keputusan peraturan bupati sehingga benar² dilaksanakan. Bila sdh benar dilaksanakan maka akan menumbuhkan nilai ekonomis, dimana para pelaku usaha baik garmen maupun konveksi Tailor, mranggi (pembuat warangka keris) pengrajin blangkon dan aksesoris busana adat bisa tumbuh kembang. Salam budaya, Rahayu🙏🏼

Comments (2)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *