Nasional, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena melontarkan kritik keras terhadap kinerja pemerintah dan seluruh pranata sosial menyusul meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah.
Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD, diduga nekat mengakhiri hidup setelah meminta uang sebesar Rp10 ribu kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.
Hal itu disampaikan dalam sambutannya saat peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2/2026), Melki secara terbuka mengakui kegagalan negara dalam melindungi warganya.
“Pranata sosial kita gagal. Pemerintahan kita juga gagal. Provinsi gagal, Kabupaten Ngada juga gagal,” tegas Melki di hadapan jajaran pejabat daerah.
Menurutnya, tragedi tersebut merupakan peringatan keras bahwa sistem perlindungan sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia menilai kegagalan tidak hanya terjadi pada pemerintah, tetapi juga pada pranata agama dan budaya.
“Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal, sampai ada orang mati karena miskin begini,” ujarnya.
Melki mengaku malu sebagai gubernur atas peristiwa tersebut dan menegaskan kejadian serupa tidak boleh kembali terulang.
“Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena begini,” katanya.
Ia meminta agar peristiwa ini tidak dianggap sebagai kejadian biasa. Menurut Melki, kesalahan harus ditelusuri secara jelas dan pihak yang bertanggung jawab harus siap ditindak.
“Kalaupun saya salah, saya siap dituntut. Kesalahan itu ada di mana, orangnya harus siap dituntut,” tegasnya.
Gubernur juga mempertanyakan efektivitas berbagai program bantuan sosial yang selama ini digelontorkan pemerintah, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH).
“Uang triliunan mengalir ke NTT untuk urusan orang miskin, tapi masih ada warga yang mati hanya karena tidak punya Rp10 ribu,” ucap Melki.
Sebelumnya, ibu korban yang berprofesi sebagai petani dan buruh serabutan mengaku tidak memiliki uang saat anaknya meminta biaya untuk membeli perlengkapan sekolah. Kondisi tersebut diduga memicu tekanan psikologis pada korban hingga berujung pada tindakan fatal.














