Radio Online


 

BeritaBanyuwangi

SEKAR ARUM, Gerakan SMPN 3 Genteng Mengubah Buku Menjadi Gagasan dan Karya

×

SEKAR ARUM, Gerakan SMPN 3 Genteng Mengubah Buku Menjadi Gagasan dan Karya

Sebarkan artikel ini

Banyuwangi|Buku tidak boleh sekadar menjadi pajangan di rak perpustakaan. Dari lembaran buku, anak-anak bisa menemukan pengetahuan, membangun imajinasi, melahirkan gagasan, bahkan menciptakan perubahan. Semangat itulah yang menjadi pijakan program SEKAR ARUM (Senang Berkarya dengan Kearifan, Keunikan, dan Kemandirian) di SMPN 3 Genteng.

Kepala SMPN 3 Genteng, Mashudi, S.Pd., memaparkan bahwa gerakan tersebut dirancang untuk menghidupkan kembali kedekatan siswa dengan buku sekaligus menjadikan aktivitas membaca sebagai pintu masuk menuju karya.

Menurutnya, kekuatan sebuah buku tidak berhenti ketika halaman terakhir selesai dibaca. Pengetahuan yang diperoleh harus mampu mendorong anak untuk berpikir, berdiskusi, menemukan ide, dan berani berkarya.

Mashudi mengangkat kisah inspiratif William Kamkwamba, anak asal Malawi yang pada 2002 menghadapi keterbatasan hingga mengalami kegagalan dalam pendidikan. Namun, ia tidak berhenti belajar. Melalui buku dan rasa ingin tahu, William memperoleh pengetahuan yang kemudian membantunya menciptakan perubahan bagi lingkungan di sekitarnya.

“Buku bukan sekadar benda yang memenuhi rak perpustakaan. Di tangan anak-anak, buku dapat menjadi pintu menuju gagasan, imajinasi, dan perubahan,” demikian gagasan yang ditekankan dalam pemaparan tersebut.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, tantangan literasi anak semakin nyata. Gadget dengan berbagai hiburan di dalamnya membuat perhatian anak lebih mudah terserap layar, sementara waktu untuk membaca buku perlahan terpinggirkan.

Kondisi tersebut, ditambah tantangan kemampuan literasi Indonesia yang tercermin dalam hasil PISA, menjadi pengingat bahwa penguatan budaya membaca membutuhkan gerakan yang nyata, dekat dengan kehidupan anak, dan dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui SEKAR ARUM, SMPN 3 Genteng berupaya menjadikan kegiatan membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan pengalaman yang menghasilkan pemikiran dan karya.

Dalam pelaksanaannya, Guru Wali tidak hanya berperan mengawasi aktivitas membaca. Guru ditempatkan sebagai pendamping, pengarah, sekaligus teman berdiskusi bagi siswa. Anak-anak diberikan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka temukan dari buku hingga masa kontrak baca berakhir.

Targetnya sederhana namun penting, siswa tidak hanya membawa pulang cerita dari buku yang dibaca, tetapi juga membawa insight, gagasan, dan keberanian untuk berkarya.

“Perubahan besar kadang bermula dari sesuatu yang sangat sederhana, seorang anak, sebuah buku, dan keberanian untuk berkarya,” menjadi pesan utama yang mendasari gerakan SEKAR ARUM.

Dengan pendekatan tersebut, SMPN 3 Genteng ingin menegaskan bahwa budaya literasi bukan sekadar persoalan seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi sejauh mana bacaan mampu mengubah cara anak berpikir dan mendorong mereka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat._Ren_

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *