TRENGGALEK – RSUD dr. Soedomo Trenggalek memperkuat layanan hemodialisis atau cuci darah dengan meresmikan pengembangan gedung layanan dialisis baru, Senin (5/10/2026).
Pengembangan tersebut ditandai dengan penambahan mesin hemodialisis dari sebelumnya 14 unit menjadi 31 unit. Penambahan kapasitas ini diharapkan mampu mengurangi antrean sekaligus memberikan akses layanan bagi pasien yang selama ini harus menjalani cuci darah di luar Trenggalek.
Pj Sekda Trenggalek, ST. Triadi Admono, mengatakan saat ini terdapat 78 pasien HD reguler aktif, sementara 145 pasien masih berada dalam daftar tunggu dan tersebar di sejumlah rumah sakit.
“Ini komitmen meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Saat ini pelayanan dialisis melayani 78 pasien HD reguler aktif, sedangkan 145 pasien dalam daftar tunggu. Ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan ini masih tinggi,” ujarnya.
Triadi berharap penambahan kapasitas tersebut dapat memperluas akses, mengurangi waktu tunggu, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Direktur RSUD dr. Soedomo, dr. Saeroni, menegaskan pengembangan layanan bukan semata untuk meningkatkan jumlah pasien, tetapi untuk mengoptimalkan pelayanan. Pasalnya, pasien gagal ginjal membutuhkan terapi hemodialisis secara rutin, umumnya dua kali dalam sepekan.
“Dengan adanya gedung baru dan alat yang dua kali lebih banyak, semoga mereka bisa terlayani di Trenggalek, sehingga mereka bisa mengurangi biaya,” tandasnya.
Dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat dialisis, dr. Agus Dahana, menjelaskan dari 31 mesin yang tersedia, 28 unit digunakan untuk layanan reguler. Sementara tiga lainnya dialokasikan untuk kebutuhan isolasi airborne, pasien hepatitis B, dan mesin backup.
Penguatan fasilitas tersebut juga didukung dua dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat dialisis, satu dokter umum bersertifikat dialisis, serta 25 perawat bersertifikat mahir dialisis.
Di sisi lain, layanan ini juga mencatat 11 pasien yang dinyatakan berhenti dari terapi HD setelah fungsi ginjalnya mengalami perbaikan. Salah satunya Rusnawati, 67 tahun.
Rusnawati mengatakan kepatuhan terhadap arahan dokter dan menjaga pola makan menjadi bagian penting dalam proses pemulihannya.
“Yang penting ikut arahan dokter dan mau tarak. Menghindari makanan-makanan yang dilarang,” ujarnya.














